LANDASAN YURIDIS PENYELENGGARAAN TAMAN KANAK-KANAK (TK)

By sulthan on Selasa, 01 Maret 2011

PAUD-Anakbermainbelajar---Dalam rangka mengatur berbagai penyelenggaraan pendidikan di Indonesia pemerintah sebelumnya telah menyusun dan memberlakukan Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang ini menjadi payung bagi para pelaksana dan penyelenggara pendidikan dari tingkat pendidikan prasekolah sampai tingkat pendidikan tinggi. Sebagai bentuk penjabaran dari Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 yang berkaitan dengan lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak telah dibuat peraturan pemerintah Nomor 27 tahun 1990 yang juga mengatur penyelenggaraan KB dan TPA. Walaupun undang-undang ini telah diganti oleh Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, ada baiknya kita ulang kembali dan mencoba melakukan perbandingan. Beberapa perbedaan penyebutan, pengelompokan, dan penjelasan tentang TK di antara kedua Undang-undang tersebut, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut;

1. Dalam undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 dikemukakan beberapa ayat yang terkait dengan penyelenggaraan TK, di antara adalah berikut ini.
a. Pasal 5 (ayat 1), yaitu "Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang terdapat di jalur pendidikan sekolah".
b. Pasal 6 (yat 1), yaitu "Taman Kanak-kanak merupakan bentuk pendidikan prasekolah yang menyelenggarakan pendidikan dini bagi anak 4 tahun sampai 6 tahun".
c. Pasal 14, yaitu "Persyaratan pendirian Taman Kanak-kanak harus memenuhi adanya kurikulum, anak didik, pendidik, saran dan prasarana".

2. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 28 dikemukakan tentang Pendidikan anak usia dini salah satunya adalah TK yang berada dalam jalur pendidikan formal yang isinya sebagai berikut;
a.  Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
b. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.
c.  Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berntuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA) atau bentuk lain sederajat.
d. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat.
e.  Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
f.  Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur  lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan pasal dan ayat di atas terdapat perbedaan istilah dalam pengelompokan TK. Dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989, TK dikelompokan sebagai lembaga pendidikan prasekolah yang terdapat di jalur sekolah, sedangkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, TK sebagai salah satu lembaga pendidikan anak usia dini yang terdapat di jalur formal. https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.com/

Dari beberapa hal di atas dapat kita lihat bahwa, konsep tentang sekolah dan formal memiliki bebersapa persamaan dan perbedaan. Persamaan keduanya terletak pada substansi bahwa TK diselenggarakan dengan mekanisme dan kurikulum yang berstruktur serta bersyarat dalam hal penyelenggaraan. Adapun perbedaannya terletak pada konsep sekolah yang lebih mengacu pada penyelenggaraan persekolahan yang mengharuskan adanya sarana prasarana gedung, halaman dan peralatan minimal (di dalam dan di luar kelas), sedangkan konsep formal lebih merujuk pada ketertiban dan keresmian dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan TK. Namun demikian, perbedaan tersebut bukanlah merupakan hal yang prinsip dan jika diperdebatkan pada akhirnya akan mencapai titik temu persamaan di antara keduanya.


Selengkapnya →

LANDASAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI TAMAN KANAK-KANAK (TK)

By sulthan on Senin, 28 Februari 2011

TK di Banjarmasin, landasan TK, Pengelolaan TK, Manajemen TK, TK Negeri Pembina
PAUD-Anakbermainbelajar---Untuk menyelenggarakan dan mengelola sebuah Taman Kanak-kanak (TK) kita harus memahami Landasan penyelenggaraannya. Hal ini dimaksudkan agar kita memiliki dasar dan arah untuk mengelola sebuah lembaga Pendidikan TK yang baik. Kerangka landasan ini juga diharapkan dapat memberikan acuan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, melakukan penelitian, menata administrasi, menata sarana dan prasarana serta melakukan monitoring dan pengawasan penyelenggaraan TK.

Ada 3 tiga landasan penyelenggaraan pendidikan TK ini yaitu :

1. Landasan Yuridis

Landasan Yuridis berisi tentang acuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mengatur penyelenggaraan pendidikan TK.



2. Landasan Operasional

Landasan operasional berisi tentang teknis penyelenggaraan TK sebagai penjabaran peraturan pemerintah yang biasanya disusun dalam keputusan Menteri.



3. Landasan Konseptual

Landasan Konseptual atau sering dikenal dikenal dengan landasan teoritis berisi tentang pedoman teoritis atau acuan konseptual dalam menyelenggarakan pendidikan di TK.


Selengkapnya →

INILAH CIRI-CIRI PERKEMBANGAN ANAK MENURUT TEORI

By sulthan on Rabu, 02 Februari 2011

Perkembangan Peserta Didik

Secara umum, dapat diartikan bahwa perkembangan merupakan pola perubahan yang dimulai pada saat konsepsi (pembuahan) dan berlanjut di sepanjang rentang kehidupan. Kebanyakan perkembangan melibatkan pertumbuhan, bahkan pada kematian sekalipun, pertumbuhan tetap ada (Santrock, 1998) dalam Papalia, dkk (2004). disebutkan bahwa perkembangan manusia merupakan suatu studi ilmiah tentang bagaimana seseorang berubah dan sekaligus bagaimana mereka tetap sama dalam waktu yang berbeda.

Perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematik, progresif dan berkesinambungan baik menyangkut fisik dan psikis. secara sistematis adalah perubahan dalam perkembangan itu besifat saling mempengaruhi antara bagian-bagian organism (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Secara progresif perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, mendalam baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis) dan secara berkesinambungan perubahan pada bagian atau fungsi organism berlangsung secara beraturan.

Manusia pada dasarnya memiliki perkembangan yang merujuk kepada perubahan fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika lingkungan sementara psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu seperti perkembangan kognitif,emosi,social dan moral. Adapun ciri-ciri perkembangan secara umum seperti berikut:
  • terjadinya perubahan dalam aspek fisik ( perubahan berat badan dan organ-organ tubuh) dan aspek psikis (matangya kemampuan berfikir, mengingat serta berkreasi)
  • terjadinya perubahan dalam proporsi; aspek fisik ( proporsi tubuh anak berubah sesuai fase perkembangannya) dan aspek psikis (perubahan dari imajenasi fantasi ke realitas)
  • Lenyapnya tanda-tanda yang lama; aspek fisik( lenyapnya kelenjar thymus (kelenjar anak-anak) seiring bertambahnya usia) aspek psikis ( lenyapnya prilaku kanak-kanak dan prilaku implusif
  • Di perolehnya tanda-tanda yang baru ; aspek fisik ( pergantian gigi dan karakter seks pada usia remaja) aspek psikis berkembangya rasa ingin tahu tentang pengetahuan, moral, interaksi dengan lawan jenis).


Adapun prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut :
  1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending proses) artinya manusia secara terus menerus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman dan belajar.
  2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi artinya setiap aspek perkembangan individu baik fisik, emosi, intelegensi maupun social saling mempengaruhi jika salah satu aspek tersebut tidak ada.
  3. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu artinya perkembangan itu terjadi secara teratur sehingga hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan persyaratan bagi perkembangan selanjutnya


Menurut Yelon dan Weinstein 1977 pola atau arah perkembangan itu sebagai berikut:

    Cephalocaudal (perkembangan itu dimulaia dari kepala ke kaki, artinya yang matang duluan adalah bagian atas kemudian ke bagian bawah dan tidak mungkin terbalik), dan proximodistal (dari tengah ke samping seperti paru dan jantung, ke pinggir seperti tangan)
    Struktur mendahului fungsi, yang berarti bahwa anggota tubuh individu akan berfungsi setelah matang strukturnya. Seperti mata melihat setelah otot-ototnya matang.
    Perkembangan itu berdiferensiasial maksudnya perkembangan itu berlangsung dari umum ke khusus.
    Perkembangan itu berlangsung dari konkret ke abstrak, maksudnya perkembangan itu berproses dari suatu kemampuan berfikir yang konkret ( objeknya tampak ke abstrak (objeknya tidak tampak)
    Perkembangan itu berlangsung dari egosentris menjadi perspektifis. sifat yang melihat atau memperhatikan dirinya sebagai pusat, tapi melalui pengalamannya dalam bergaul dengan temannya lambat laun sifat egosentris itu berubah menjadi perspektifis (anak sudah mulai memerhatikan kepentingan orang lain)
    Perkembangan itu berlangsung dari “outer control to inner control”, maksudnya pada awal anak sangat bergantung pada orang lain sehingga hidupnya didominasi oleh pengontrolan dari luar seiiring bertambahnya pengalaman dari lingkungan ia mampu mengontrol dirinya sendiri.
    Pekembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya pada waktu dan tempo yang berbeda ( ada cepat dan ada yang lambat)


Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Prinsip ini dijelaskan dengan contoh yaitu:
  • Sampai usia dua tahun,anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya.
  • Pada usia tiga sampai enam tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia social (belajar bergaul dengan orang lain)
  • Setiap indivudu yang normal akan mengalai tahapan / fase perkembangan. Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase perkembangan.


Menurut pendapat para ahli mengenai periodisasi yang bermacam-macam tadi dapat digolongkan dalam tiga bagaian, yaitu:
  1. Periodisasi atau pembagian masa-masa perkembangan yang berdasar biologis didasarkan kepada keadaan atau proses biologis tertentu. Pembagian Aristoteles didasar atas gejala pertumbuhan jasmani yaitu antara fase satu dan fase kedua dibatasi oleh pergantian gigi. Antara fase kedua dan fase ketiga ditandai dengan mulai bekerjanya kelenjar kelengkapan kelamin.
  2. Periodisasi yang berdasarkan psikologis. Tokoh utama yang mendasrkan periodisasi ini kepada keadaan psikologis ialah Oswald Kroch. Ia menjadikan masa-masa kegoncangan sebagai dasar masa-masa perkembangan, karena ia yakinbahwa masa kegoncangan inilah yang merupakan keadaan psikologis yang khas dan dialami oleh setiap anak dalam masa perkembangannya.
  3. Periodisasi yang berdasarkan didaktis pembagian masa-masa perkembangan sekarang ini seperti yang dikemukakan oleh Haevey A. Tilker dan Elizabeth B Hurlock tampak sudah lengkap mencakup sepanjang hidup manusia sesuai dengan hakihat perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi sampai mati dengan pembagian periodisasinya sebagai berikut:

Masa sebelum lahir (prenatal period)

Masa konsepsi 9 bulan 10 hari.

Periode telur (zygote sampai akhir minggu ke dua).

Periode embrio akhir minggu ke dua akhir bulan ke dua.

Periode janin aetus akhir bulan ke dua sampai masa lahir.

Masa bayi baru lahir ( new born)

Sejak bayi lahir usia 10-15 hari.

Masa platean stage adalah masa pemberhentian pertumbuhan.

Masa bayi (babyhood)

Usia 2 minggu sampai 2 tahun masa ini sebagai masa periode kritis, periode pembentukan segala pengaruh dasar kepribadian.

Masa kanak-kanak awal (early childhood)

Masa mempersiapkan diri hidup di lingkungan social (kelas 1 SD).

Masa kanak-kanak akhir (later childhood)

Usia 6-12 tahun masa anak siap menerima tuntutan orang di luar.

Masa puber (puberty)

Periode tumpang tindih antara masa kanak-kanak akhir dan masa awal remaja. Usia berkisar 10- 16 tahun perubahan tubuh (proporsi, kondisi) pertumbuhan ciri-ciri seks awal dan skunder.

    Masa dewasa awal (early adulthood) 21-40 tahun
    Masa dewasa madya (middle adulthood) 40-60 tahun
    Masa usia lanjut (later adulthood) 60 keatas

Melalui pengetahuan ini kiranya seorang tua diharapkan memperhatikan perkembangan anaknya jika terjadi penyimpangan ataupun pendahuluan perkembangan orang tua harusnya meluruskan hal-hal yang terlihat kurang sehingga anak dapat berkembang sesuai fase-fase perkembangan yang dipaparkan tadi dan tentunya terhindar dari percepatan pertumbuhan yang terjadi pada anak-anak masa kini.
Selengkapnya →

INILAH 7 MANFAAT BERMAIN UNTUK ANAK USIA DINI

By sulthan on Selasa, 01 Februari 2011

Dunia anak, anak bermain, manfaat bermain, bermain diPAUD, permainan Anak Usia Dini, Permainan anak Outdoor
PAUD-Anakbermainbelajar---Bermain adalah sesuatu yang sangat penting bagi anak usia dini, karena dunia anak itu pada dasarnya adalah dunia bermain, dunia yang menyenangkan, penuh dengan warna warni yang indah sesuai dengan kehidupan anak-anak. Kegiatan bermain itu sangat disukai oleh anak usia dini, lihatlah sebagian besar waktu anak-anak itu digunakan untuk bermain. Banyak Ilmuwan telah melakukan berbagai penelitian dan diperoleh temuan bahwa bermain mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak, baik dalam ranah fisik, motorik, kognitif, bahasa dan sosial, serta emosional. Alat bermain (mainan) ataupun kegiatan bermain tertentu, secara bersamaan memiliki banyak sekali manfaat, jadi tidak hanya mempunyai satu manfaat saja bagi anak usia dini.

Berikut  inilah manfaat-manfaat bermain untuk anak usia dini yang sering kita temukan dalam berbagai kesempatan baik dalam keseharian anak dirumah maupun di sekolah (lembaga PAUD);

1. Manfaat bermain dalam perkembangan kognitif anak usia dini

seperti kita ketahui bahwa aspek kognitif itu berkaitan dengan daya ingat, daya tangkap, kemampuan memahami suatu informasi, pengetahuan yang dikuasai seseorang, daya nalar, daya analisis, daya imajinasi, dan daya cipta atau kreativitas (Reber, 1995). Melalui bermain, anak akan belajar berbagai pengetahuan dan konsep dasar. Pengetahuan akan konsep-konsep ini jauh lebih mudah diperoleh melalui kegiatan bermain, sebab rentang perhatian anak Balita masih terbatas. Lagi pula mereka juga masih sulit diatur, sulit untuk dapat duduk tenang lebih dari lima belas menit. Cara terbaik yang paling tepat untuk memperkenalkan berbagai pengetahuan dan konsep dasar adalah melalui bermain. Misalnya untuk memperkenalkan konsep warna dilakukan sambil bermain melempar bola ke dalam keranjang yang berwarna sama dengan bola yang dilempar. Dapat disediakan beberapa warna bola serta keranjang dan diterapkan aturan bermain bahwa bola biru dilempar ke keranjang biru dan seterusnya. Daya cipta, misalnya dapat dikembangkan melalui bermain konstruktif. Anak diminta menyusun sejumlah balok atau kepingan-kepingan plastik untuk membentuk sesuatu atau menggambar berdasarkan imajinasinya. 


2. Manfaat bermain dalam perkembangan bahasa anak usia dini 

Menurut Vygotsky (Owens, 1996), Bahasa merupakan faktor penting untuk dikuasai manusia karena perkembangan intelektual seorang anak terkait dengan bahasa. Bahasa membantu anak mengarahkan pikiran, menajamkan ingatan, melakukan kategorisasi, dan memperlajari hal-hal baru sehingga kemampuan berpikir anak semakin meningkat.

Pada usia empat tahunan diharapkan anak sudah dapat menggunakan lebih dari seribu katan dan usia tahunan menggunakan sekitar 2600 kata dan mampu memahami 20.000 kata (Owens, 1996). Sejak usia satu setengah tahun seorang anak dapat mempelajari sekitar sembilan kata baru setiap harinya (Rice dalam Papalia et.al., 2004). Kriteria tersebut tidak berlaku mutlak, tetapi dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam memantau perkembangan bahasa pada anak. 


3. Manfaat bermain dalam perkembangan fisik anak usia dini

Melalui bermain anak dapat menyalurkan energi tubuhnya yang banyak digunakan karena ia senang bergerak sehingga iapun memperoleh kepuasan dan tidak merasa dirinya terkekang. Dengan bergerak naik-turun tangga, berlarian disekitar ruangan, jumpalitan, melompat, meloncat, meniti, bermain perosotan, bermain ayunan, dan seterusnya maka otot-otot tubuhnya pun menjadi kuat dan tubuhnya menjadi sehat.


5. Manfaat bermain dalam perkembangan motorik anak usia dini

Sumbangan bermain terhadap perkembangan motorik, baik motorik kasar maupun halus sudah sangat jelas.  Apabila kita perhatikan anak menjelang usia dua tahun bermain dengan berlari-lari kecil maka selanjutnya di usia tiga tahun anak tersebut sudah terampil berlari. Beda halnya dengan anak yang kurang diberi kesempatan untuk melakukan aktivitas ini, gerakan berlarinya nampak canggung sekalipun usianya sudah tiga tahunan. Hal ini berlaku pula dalam aktivitas lain yang membutuhkan gerakan motorik kasar, seperti melompat, meloncat, meniti, berjumpalitan. Apabila anak-anak diberi kesempatan untuk melakukannya, niscaya mereka akan lincah bergerak.

6. Manfaat bermain dalam perkembangan sosial anak usia dini

Di usia prasekolah, anak perlu belajar berpisah dengan orang tua atau pengasuhnya. Perpisahan dengan orang tua atau pengasuhnya tidak akan begitu dirasakan oleh anak apabila dilakukan dalam situasi bermain yang menyenangkan hatinya. Sebaliknya, melalui bermain pula, anak akan semakin mahir besosialisasi dengan orang lain dan teman-teman sebayanya. Bersosialisasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat berbaur dengan orang lain, menyesuaikan diri dengan kegiatan dan kebiasaan kelompok, dan dengan segala macam orang yang memiliki karakteristik unik. Anakpun belajar untuk berbagi dengan sesama teman, menunggu giliran sehingga ia belajar untuk bersabar diri. Kemampuan memecahkan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan kehidupan anak pun akan ia temukan. Misalnya, bagaimana ia harus mencari upaya agar barang yang menjadi miliknya tidak dirampas begitu saja oleh anak lain, dan sebaliknya. Bagaimana aturan permainan harus dibuat agar pertengkaran dapat dihindari. Melalui bermain ia akan belajar berkomunikasi dengan sesama teman, baik dalam hal mengemukakan pikiran, pendapat, perasaannya, maupun memahami apa yang disampaikan oleh teman sehingga hubungan dapat terbina dan anak-anak saling bertukar informasi.

7. Manfaat bermain dalam perkembangan emosi dan kepribadian anak usia dini.

Bermain merupakan suatu kegiatan yang sudah ada dengan sendirinya pada diri anak dan menjadi kebutuhan mereka. Melalui bermain anak dapat melepaskan ketegangan-ketegangan yang dialaminya karena banyaknya larangan yang harus ia hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sekaligus ia dapat memenuhi kebutuhan dan dorongan dari dalam diri yang tidak mungkin terpuaskan dalam kehidupan nyata sehingga setidaknya akan membuat anak merasa lega serta rileks.

Dari kegiatan bermain bersama teman maka ia dapat menilai dirinya sendiri. Apa yang menjadi kelebihannya sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri yang positf, yaitu mempunyai rasa percaya diri dan harga diri. Anak akan belajar bagaimana harus bersikap dan bertingkah lagu agar dapat bekerja sama dengan orang lain, bersikap jujur, murah hati, dan tulus.

Demikian ayah-bunda tentang 7 manfaat bermain untuk anak usia dini kita, semoga artikel ini bermanfaat untuk kita memahami tentang pentingnya manfaat bermain ini bagi anak. terimakasih. Wassalam.

Selengkapnya →

PENGERTIAN PENGEMBANGAN KOGNITIF ATAU INTELEKTUAL

By sulthan on Sabtu, 01 Januari 2011

PAUD-Anakbermainbelajar----Jika kita melihat dari peristilahan yang sering ditukar-pakaikan maka pada dasarnya istilah intelektual adalah sama pengertiannya dengan istilah kognitif. Pada pembahasan berikutnya kedua istilah tersebut akan digunakan secara bergantian sesuai dengan konteks kalimatnya dan pendapat para ahli yang mendefinisikan tentang hal tersebut.

Kognitif berhubunguan dengan intelegensi. Kongnitif lebih bersifat pasif atau statis yang merupakan potensi atau daya untuk memahami sesuatu, sedangkan intelegensi lebih bersifat aktif yang merupakan aktualisasi atau perwujudan dari daya atau potensi tersebut yang berupa aktivitas atau perilaku.

Potensi kognitif ditentukan pada saat konsepsi, (pembuahan) namun terwujud atau tidaknya potensi kognitif tergantung dari lingkungan dan kesempatan yang diberikan. Potensi kognitif yang dibawa sejak lahir atau merupakan faktor keturunan yang akan menentukan batas perkembangan tingkat intelegensi (batas maksimal).

Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang mencirikan seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide dan belajar.

Beberapa ahli psikologi yang berkecipung dalam bidang pendidikan mendefinisikan intelektual atau kognitif dengan berbagai peristilahan. Seperti berikut ini;
  1. Terman mendefinisikan bahwa kognitif adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak
  2. Colvin mendefinisikan bahwa kognitif adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
  3. Henman mendefinisikan bahwa kognitif adalah intelektual ditambah dengan pengetahuan.
  4. Hunt mendefinisikan bahwa kognitif adalah teknik untuk memperoses informasi yang disediakan oleh indra.

Pamela Minet mendefinisikan bahwa perkembangan intelektual adalah sama dengan perkembangan mental, sedangkan perkembangan kognitif adalah perkembangan pikiran. Pikiran adalah bagian dari proses berpikir dari otak. Pikiran yang digunakan untuk mengenali, memberi alasan rasional, mengatasi dan memahami kesempatan penting.

Sementara itu yang dimaksud dengan intelek adalah berpikir, sedangkan yang dimaksud dengan intelegensi ialah kemampuan kecerdasan. Pada dasarnya kedua istilah itu mempunyai arti yang sama, sebernarnya perbedaannya hanya terletak pada waktunya saja. Didalam kata berpikir terkandung perbuatan menimbang-nimbang, menguraikan, menghubung-hubungkan, sampai akhirnya mengambil keputusan; sedangkan dalam kata kecerdasan terkandung kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah dengan cepat (Lubis, 1986).

Garner dalam Munandar (2000), mengemukakan bahwa pengertian intelegensi sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakana karya yang dihargai dalam suatu kebudayaan atau lebih. Lebih lanjut Garner mengajukan konsep pluralistik dari intelegensi dan membedakan delapan jenis intelegensi. Dalam kehidupan sehari-hari, intelegensi itu tidak berfungsi dalam bentuk murni, tetapi setiap individu memiliki campuran (blend) yang unik dari sejumlah intelegensi, yaitu intelegensi linguistik, logis, spasial, musik, kinestetik, intrapribadi dan antarpribadi dan naturalistik.

Demikian tentang pengertian kognitif atau intelektual ini, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Sumber: dirangkum dari berbagai sumber!

Referensi:
Lubis, Zulkifli. (1999). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja rosda Karya. 
Munandar Utami, (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Garamedia Widiasarana Indonesia.
Selengkapnya →

TEORI PERKEMBANGAN ANAK

By sulthan on Sabtu, 03 Juli 2010

Bagan proses Pertumbuhan dan perkembangan anak
Teori Perkembangan anak Menurut Teori :

TEORI KONSTRUKTIF
(Piaget dan Vygotsky)

Piaget dengan teori Kognitif nya menyatakan bahwa :
Anak memeproleh pengetahuan melalui interkasi dengan lingkungannya.
Konsep berpikir anak adalah : Asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrium

Asimilasi :
Mencocokan informasi ke dalam skema (kategori) yang sudah ada. Contohnya: Jika seorang anak sudah tahu tentang seekor kucing, kemudian ditunjukan contoh kucing yang lain, maka kucing yang berikutnya akan dicocokan dengan kucing yang sudah ada.

Akomodasi :
Menciptakan skema (kategori) baru karena tidak sesuai dengan skema yang sudah ada.
Contohnya: jika seorang anak sudah tahu tentang seekor kucing, kemudian ditunjukan contoh harimau yang belum pernah dilihatnya, maka anak akan berfikir bahwa binatang yang berikutnya bukan kucing. Ibunya akan berkata "Nak, itu bukan kucing, tetapi harimau, lihatlah bedanya badanya lebih besar, suaranya juga berbeda".

Melalui akomodasi dan asimilasi terus menerus maka anak akhirnyamencapai struktur mental yang dapat menggambarkan bermacam-macam benda atau informasi.

Ekuilibrium :
Keseimbangan yang diperoleh saat informasi atau pengalaman dicocokan dengan sebuah skema atau skema baru yang diciptakan.
DisEkuilibrium
terhadap anak juga terjadi disekuilibrium yaitu keadaan mentaal saat terjadi ketidak seimbangan antara asimilasi dan akomodasi.
Ekuilibrasi
Karena itu harus terjadi ekuilibrasi yaitu proses perpindahan dari disekuilibrium ke ekuilibrasi. ekuilibrasi membuat anak menggunakan akomodasi dan asimilasi sebagai alat untuk mencapai ekuilibrium.


Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Menurut Piaget

1. Sensori-Motorik usia 0 - 2 tahun
Pada Usia ini pembentukan skemata melalui kegiatan motorik menarik dirinya ke dunia luar obyek permanen, disebut sensorimotor karena pembelajaran anak hanya melibatkan panca indra. Pada permulaan tahap ini, bayi memiliki lebih dari refleks yang digunakan untuk bekerja. anak berusia 2 tahun memiliki pola sensori-motorik yang kompleks dan mulai berkomunikasi dengan suatu simbol yang primitif.
Terdapat enam subtahap perkembangan sensori-motorik, yaitu :
  • Reflek sederhana;
  • kebiasaan-kebiasaan pertama dan reaksi sirkuler primer;
  • reaksi sirkuler sekunder;
  • koordinasi reaksi sirkuler sekunder;
  • reaksi sirkuler tersier, pencarian, dan keingintahuan, dan
  • internalisasi skema.

2. Pra Operasional Usia 2 - 7 tahun
Tahap pra-operasional merupakan tahap awal pembentukan konsep secara stabil. Penalaran mental mulai muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian lemah, serta keyakinan terhadap hal yang magis terbentuk. Piaget membagi tahapan praoperasional ini menjadi 2 bagian, yaitu subtahap Fungsi Simbolis (2 sampai 4 tahun) dan subtahap Pemikiran Intuitif (5 sampai 7 tahun).
Pada usia ini anak mampu merepresentasi mental (simbolik) Viguratif-hubungan searah, klasifikasi awal, dan perkembangan bahasa.
Dalam tahap ini terdapat pembagian 2 subtahap yaitu :
a. Subtahap Fungsi Simbolis Usia 2-4 Tahun
  • Pada subtahap ini anak mengembangkan kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada.
  • Anak-anak kecil menggunakan desain corat-coret untuk menggambarkan manusia, rumah, mobil, awan, dan lain-lain. Namun demikian, gambar-gambar yang dibuat biasanya penuh khayal dan daya cipta.
  • Pada subtahap ini berkembang pula egosentrisme, yaitu suatu ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif seseorang dengan perspektif orang lain. 
  • Selain egosentrisme, pada subtahap ini berkembang animisme. Animisme merupakan pemikiran yang berkeyakinan bahwa objek yang tidak bergerak memiliki kualitas ”semacam kehidupan” dan dapat bertindak. Apabila anak terbentur pintu, maka dia katakan ”Pintunya nakal”.
b. Subtahap Pemikiran Intuitif Usia 4-7 Tahun
  • Pada subtahap ini anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas semua bentuk pertanyaan.
  • Pada tahap ini juga anak mengalami kesulitan untuk mengklasifikasikan objek berdasarkan banyak kesamaan.
  • Pada subtahap ini berkembang pemikiran tentang ketidakmampuan dalam memahami hukum kekekalan (conservasion). Dari percobaan Piaget tentang air yang dituangkan di dalam gelas menunjukkan bahwa anak pada masa praoperasional masih terkecoh dengan bentuk dan tingginya air pada suatu gelas.

3. Operasional Konkret Usia 7 - 11 tahun
Keterampilan klasifikasi, konsep abstrak tapi masih konkrit, konsep konservasi. Pada tahap ini anak mencapai kemampuan untuk berpikir sistematik terhadap hal-hal atau objek-objek yang konkret. Anak juga mencapai kemampuan mengkonservasikan 

4. Operasional Formal Usia 11 - 15/dewasa Tahun
Dalam tahap ini perkembangan pada usia ini anak sudah mampu untuk :
- Berfikir simbolik, ide abstrak
- Memahami arti secara komprehensif
- Analisa sebab-akibat


TEORI SOSIOKULTURAL

Tahap-tahap Perkembangan Sosiokultural Menurut Vygotsky

Lev Vygotsky (1896 – 1934), ahli psikologi Rusia mengungkapkan Perkembangan yang terjadi merupakan hasil interaksi sosial yang dialami anak dalam budaya yang unik serta latar belakang keluarga. Anak berkembang dalam dua jalan yaitu natural/ alami (biologis) dan budaya. Bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif. Proses mental yang tertinggi berkembang pada saat anak mengembangkan kemampuan bicara mereka dalam konteks latihan bicara.
Terdapat dua tingkat perkembangan yang terjadi pada anak yaitu :
  1. Tingkat pertama operasi ; tingkat dimana anak dapat melakukan tugas pemecahan masalah secara mandiri – merupakan tingkat perkembangan aktual.
  2. Tingkat ke dua adalah ketika anak dapat melakukan tugas yang sama dibawah bimbingan orang dewasa atau teman sebayanya yang lebih terampil – merupakan tingkat perkembangan potensial.
Jarak antara kedua tingkat ini disebut the zone of proximal development. Inti dari belajar adalah menciptakan zone of proximal development, yaitu belajar membangun berbagai proses perkembangan internal yang hanya dapat dioperasikan bila anak berinteraksi dengan orang lain di dalam lingkungannya dan dalam kerjasama dengan teman sebayanya.


TEORI PSIKOSOSIAL 
 
Tahap-tahap Perkembangan Psikososial  (Erik Erikson)

Perkembangan psikososial berjalan melalui serangkaian tahapan, setiap tahapan terdiri dari tugas-tugas perkembangan khas yang menghadapkan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Semakin berhasil individu mengatasi krisis akan semakin sehat perkembangannya.Perkembangan psikososial berjalan melalui serangkaian tahapan, setiap tahapan terdiri dari tugas-tugas perkembangan khas yang menghadapkan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Semakin berhasil individu mengatasi krisis akan semakin sehat perkembangannya.

Dalam tahap perkembangan teori Psikososial Erik Erikson terbagi menjadi 4 tahapan yaitu :

1. Tahap Percaya vs Tidak Percaya (0-1tahun)
Kepercayaan anak berdasar pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis Kepercayaan dibangun jika ada pengasuh yang responsif
Contoh : Memeluk anak ketika menangis, Memberi makan, dll
Penting untuk landasan hubungan sosial anak selanjutnya. Jika tidak ada perhatian dari si pengasuh maka anak akan sulit percaya dengan orang lain.

2. Otonomi vs Malu dan Ragu (1-3 tahun)
Anak punya banyak kemampuan baru dan lebih mandiri. Contoh : makan sendiri, berjalan, dll.
Senang mencoba dan eksplorasi, namun belum terarah.  Contoh : memegang semua barang di sekitarnya.
Jika tidak ada kesempatan dari pengasuh anak akan merasa bingung dan ragu dengan kemampuannya.

3. Inisiatif vs Perasaan Bersalah (3-6 tahun)
Anak suka mencoba hal baru dan meniru pekerjaan orang dewasa Punya keinginan sendiri untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman.  Contoh : membantu ibu memasak di dapur. Jika ada larangan bahkan dimarahi maka akan terjadi anak merasa bersalah dan cenderung membatasi diri.

4. Produktif vs Rendah Diri (7-11 tahun)
Anak mengembangkan keyakinan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Anak bekerja keras untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberi. Jika gagal dan disalahkan oleh sekitar maka anak akan merasa rendah diri.


FASE PERKEMBANGAN ANAK
(Menurut Syariat Islam)

1. Bayi; Semenjak lahir - 2 tahun
Pada Pada masa ini orang tua perlu mengembangkan kasih sayang dua arah.

2. Anak-anak (Thufulah); Usia 2 - 7 tahun
Masa untuk memberikan dasar-dasar tauhid pada anak yang mendorongnya untuk bergerak melakukan sesuatu yang baik manurut Allah SWT.

3. Tamyiz; Usia 7 - 10 tahun
Masa awal anak dalam membedakan baik dan buruk melalui penalarannya. Pada masa ini anak perlu mendapatkan pendidikan pokok syariat.

4. Amrad Usia 10 - 15 tahun
Pada masa ini anak memerlukan pengembangan potensinya. Pada masa ini juga anak mencapai 'aqil baligh (akalnya sampai).

5. Taklif Usia 15 - 18 tahun
Pada usia ini anak harus tertanam rasa tanggung jawab. Baik pada diri, orang tua, ataupun lingkungannya.

Sumber : Disarikan dari berbagai sumber !!
Selengkapnya →

MENGENAL PRIODE EMAS ANAK USIA DINI

By sulthan

Anak Paud, Golden Ages, masa-masa
Periode emas pada masa usia dini (golden ages) merupakan bagian awal perkembangan yang sangat berharga dalam kehidupan manusia. Dimana seiring dengan bertambahnya usia perkembangan, manusia menuju kearah kemampuan yang lebih meningkat dan sempurna. Dan ini merupakan suatu kelebihan yang membedakan manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh sang Pencipta dengan makhluk lainnya, hal tersebut dapat terjadi karena adanya suatu alat atau organ dalam tubuh manusia yang mempunyai kemampuan yang unik disebut otak.


Pada proses tumbuh sesuai dengan usia anak, informasi yang masuk ke otak di terima oleh berbagai macam panca indera kemudian di rekam dan disimpan sebagai ingatan. Banyaknya informasi yang diterima otak secara sadar atau tanpa disadari. Lingkungan secara tidak langsung merupakan stimulasi pada berbagai pusat di otak yang akan memacu perkembangan fungsi otak itu sendiri dan berpengaruh terhadap perkembangan fisik dan mental anak. Selain rangsang yang adequat dan terstruktur, otak dalam perkembangannya juga membutuhkan asupan gizi yang cukup agar struktur-struktur fisik otak dapat berkembang sesuai dan berfungsi secara optimal.

 
OTAK SEBAGAI MODALITAS DASAR PROSES TUMBUH KEMBANG

Pertumbuhan anak terjadi sesuai dengan pertambahan usia. Berat otak akan bertambah sejak lahir dari 300 gram dan mencapai ukuran maksimum saat dewasa. Bertambqah beratnya otak diakibatkan oleh bertambahnya juluran saraf yang berhubungan, bertambahnya sel-sel lemak di otak, dan bertambahnya jaringan antar sel saraf atau Neuroglia yang akan meningkatkan akselerasi proses berfikir menjadi lebih cepat, (Thomson, Berger, Berry, 1980 dalam Clark 1986).

Pada proses tumbuh kembang, bertambahnya informasi yang diterima otak melalui panca indera dalam lingkungan sekitar tidak terstruktur maupun terstruktur akan direkam otak sebagai ingatan awal yang merupakan modal awal bagi anak pada tahapan pertumbuhan saat itu untuk menjelajah dunia sekitarnya (eksplorasi kemampuannya) dan selanjutnya hasil perekaman informasi tersebut akan membentuk hubungan-hubungan baru antar sel saraf.

Semakin banyak hubungan antar sel saraf itu terbentuk, semakin banyak kemampuan fungsional/kemampuan anak yang dapat diamati pada tahap pertumbuihan usia anak, seiring dengan terpenuhinya pertumbuhan fisik struktural otak dengan adanya asupan gizi yang cukup.


PROSES PEMBELAJARAN PADA ANAK DINI USIA

Selama masa pertumbuhan anak dari sejak lahir, perkembangan minat dan permainan anak terkait dengan perkembangan kemampuannya. Namun, setelah koordinasi dasar kaki, tangan dan bagian badan yang terkait sudah mantap pertumbuhannya demikian pula dengan kemampuan bahasanya, maka anak sudah mulai mampu mengeksplorasi lebih jauh dengan merancang berbagai alternatif perilaku lain, semakin bertambah usia penyaluran pilihan melatih kemampuannya untuk mengeksplorasi lingkungan juga di pengaruhi oleh kesempatan dan peluang yang diperolehnya dari lingkungan yang merupakan hasil dari pengalamannya. Oleh karena itu berbagai pola permainan sebaiknya dapat dirancang secara terstruktur agar anak dapat mencapai kemampuan yang optimal berdasarkan pengalaman belajarnya (Chilhood Education).

Peristiwa ketika bayi mencoba, terjadi suatu proses yang disebut ’peristiwa’. Seorang bayi yang baru saja berhasil berdiri untuk pertama kalinya, secara otomatis akan berpegangan pada sesuatu dalam usahanya untuk dapat tetap berdiri dan dia telah menarik seluruh taplak meja, menjatuhkan alat makan, menumpahkan isi gelas serta memecahkan gelas , yang disebut sebagai peristiwa dan sebuah kenyataan fisik yang terjadi dari sebuah percobaan. Setiap percobaan bisa memunculkan berpuluh-puluh peristiwa yang berbeda. Disini juga tampak bahwa kemampuannya berdiri diawali dengan satu proses tercapainya kemampuan protective diri yang di tandai dengan adanya kemampuan dari kedua tangannya yang muncul sebagai kemampuan yang mendukung kemampuannya berdiri (berpegangan tangan untuk mempertahankan diri dan akan menahan tubuhnya bila ia terjatuh).

Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dilakukan kegiatan yang di sebut stimulasi terstruktur dan bertahap, yang disebut kegiatan stimulasi. Pembelajaran pada proses awal dilakukan melalui proses mencoba (to try). Mencoba segala sesuatu sebelum dipahami semuanya. Contohnya : dalam proses belajar berjalan, bayi akan melalui puluhan atau ratusan kali percobaan atau eksperimen sampai akhirnya ia bisa berjalan. Tanpa adanya percobaan dan resiko yang menyertainya, tidak akan ada pembelajaran yang pernah terjadi.

Sebagai akibat adanya percobaan dan peristiwa, akan terjadi respon atau umpan balik dalam bentuk kesiapan panca indra, seperti : pelihatan, pendengaran, rasa/penghidu yang memberikan rangsangan berkembangnya panca indra utama termasuk kulit dan kemampuan gerak (motoriknya). Setelah menerima umpan balik, otak bayi akan berkembang dengan pesat mencatatkan atau menyimpan berjuta-juta data baru yang diterimanya yang akan menjadi alat untuk menjelajahi dunia selanjutnya, bayi akan menyesuaikan perilakunya pada satu hal dengan tujuan dan pengalaman yang telah di dapati.

Kesiapan bayi untuk melakukan proses pembelajaran tersebut diatas, dapat di persiapkan melalui kegiatan stimulasi aktif yang dilakukan untuk mempersiapkan dan meningkatkan panca indra agar dapat menerima rangsangan dari lingkungan atau menyadarkan anak dari lingkungan melalui kegiatan stimulasi dasar dengan melakukan kegiatan sebagai berikut:

1. Kegiatan Stimulasi Bertahap:


Tahapan kegiatan:


Stimulasi dasar untuk meningkatkan kemampuan pengindraan


stimulasi lanjutan untuk Kegiatan terintegrasi antara fungsi pelihatan, pendengaran, gerak, rasa dan emosi (multimodal) dan membuat lingkungannya terstruktur dengan baik sehingga memungkinkan berkembanganya potensi kecerdasan jamak dan kemampuan dasar prasekolah (persiapan menulis, membaca dan berhitung serta berkreasi)

Kegiatan stimulasi untuk anak usia dini meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Stimulasi Dasar

Kegiatan stimulasi yang dilakukan untuk mempersiapkan dan meningkatkan kemampuan panca indera agar dapat menerima rangsang dari lingkungan (menyadarkan anak akan lingkungan) dengan kegiatan-kegiatan, sebagai berikut:

Meningkatkan kemampuan pengindraan

Stimulasi indra pelihatan

Dengan mengenalkan bayi dengan berbagai macam intensitas cahaya: bayi dipindahkan dari tempat gelap ke tempat terang dan sebaliknya secara bertahap dan berulang-ulang sambil memberi rangsang dengan memperlihatkan alat permainan dengan bentuk dan warna mainan yang masih dapat dikenali serta tetap menjaga kenyamanan bayi. Pada pelatihan ini juga rasa sensorik bayi dikenalkan dengan intensitas suhu yang berbeda-beda pada tempat yang panas (terang), sejuk/dingin (gelap).

Pelatihan pelihatan dengan alat permainan

Peningkatan konsentrasi mata agar mata terfokus pada
warna-warna, bentuk-bentuk, tempat-tempat tertentu

Benda dengan warna kontras bentuk beda-beda

Benda dengan warna kontras yang bergerak (mobil-mobilan atau boneka yang berjalan sendiri).

Dikombinasikan dengan bunyi-bunyian dari berbagai arah sudut pandang.

Stimulasi kemampuan gerakan bola mata yang diperlukan proses membaca dengan menggunakan gambar-gambar yang berurutan (memindahkan benda-benda yang menarik perhatian dari berbagai sudut pelihatan)

Stimulasi indra pendengaran.

Melalui kegiatan, sebagai berikut:

• Mengalihkan perhatian bayi terhadap suara dengan selalu menjaga kenyamanan bayi

• Memberikan berbagai rangsang bunyi (suara ibu, keluarga, bunyi alam) dan perhatikan reaksi terhadap rangsang suara tersebut, dan lkukan berulang-ulang, suara keras-lemah secara bergantian dan dilakukan berulang-ulang.

• Melatih pendengaran dapat dilakukan melalui kegiatan mendongeng langsung oleh ibu atau mendengarkan radio dengan alat-alat bermain yang bergerak-gerak, menjauh-mendekat

• Bereaksi terhadap rangsang suara

• Dilakukan secara berulang-ulang

Tingkatkan perbedaan intensitas dari masing-masing jenis rangsang tersebut dengan melibatkan perhatian anak.

Stimulasi kinaestetik sensory

Melalui kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan proses tumbuh kembang senso-motorik, sebagai berikut:

  • Mengenal bagian-bagian tubuh
  • Mengenal lingkungan dengan memfokuskan perhatian pada indera-indera tertentu dengan melakukannya secara berulang-ulang (ada pengulangan)
  • Melakukan stimulasi dengan menghubung-hubungkan dengan informasi yang sudah diterima dengan informasi baru, berupa: situasi dan lingkungan yang tertata dengan baik (metode bermain sentras, gerak, lagu, dll).

Pada proses sensomotorik, rangsang dilakukan melalui sentuhan/belaian pada permukaan kulit dengan gerakan halus

Stimulasi Lanjutan

Dilakukan setelah koordinasi kaki, tangan dan bahasa yang terkait sudah agak mantap sehingga anak dapat siap untuk dilakukan stimulasi lanjutan untuk merangsang berkembangnya berbagai kemampuan lainnya.

Kegiatan terintegrasi antara fungsi pelihatan, pendengaran, gerak, rasa dan emosi (multimodal) dan membuat lingkungannya tertata dengan baik sehingga memungkinkan berkembanganya potensi kecerdasan jamak (senam kupu-kupu dan metode pendekatan bermain dalam metode sentra) dan mempersiapkan fungsi-fungsi yang berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berhitung dengan pola bermain spesifik.

STIMULASI POTENSI KEMAMPUAN JAMAK DILAKUKAN MELALUI KEGIATAN SPESIFIK MODALITAS OTAK

Melakukan stimulasi kinaestetik sensorik, intra dan inter personal, emosi, musik dalam bermain peran dengan latihan gerak dan lagu.

Bermain peran sebagai tokoh:

    Aku seorang pelaut
    Aku seorang kapiten
    Aku seorang penerbang
    Aku penebang kayu
    Aku seorang petani
    Aku seorang nelayan

Bermain peran sebagai kelompok binatang:( Kinaestetik sensory, Musical, Emosional, visual, visuospatial):

    Si kancil anak nakal
    Si kodok
    Si Komo
    Kupu-kupu yang lucu
    Dll

Bermain peran mengenal lingkungan: (auditory, kinaestetik, sensory, visual, visuospatial):

    Lihat kebunku
    Lihat rumahku
    Dengar burung berkicau
    Dll

Bermain peran untuk memvisualisasikan apa yang dilihat, dengan benda padat, bermain balok dengan berbagai ukuran, bentuk dan warna. Dengan bahan-bahan tradisional.

    Membuat kereta dari kulit jeruk

Bermain peran untuk memvisualisasikan apa yang dilihat, dengan benda cair (air)

    Mencampur-campur air
    Menuang air
    Memindahkan air dari gelas ke botol (kecil, sedang, besar)

Bermain peran dengan memvisualisasikan apa yang dilihat dengan pasir.

    Membuat gunung-gunungan
    Membuat jalan
    Membuat terowongan dengan pasir

Bermain sambil mendengar (untuk persiapan membaca)

    Mendengarkan dongeng
    Menghafal dan mengulang dongeng
    Bercerita pengalaman
    Mendengar sajak
    Menghafal dan mengulang sajak (prosodi bahasa)

Melatih logik matematika

a. Mengenal urut-urutan (sequencing):

    Berbaris dengan urutan hitung
    Berbaris dengan urutan bertambah
    Berbaris dengan urutsn berkurang
    Berbaris dengan urutan yang dikaitkan dengan simbol-simbol huruf/angka

b. Mengenal konsep ukuran (measurement):

    Berat – ringan (raba tubuh)
    Panjang – pendek (visual)
    Besar – kecil (visual/rasa)
    Padat – cair (rasa)
    Panas – hangat – dingin (rasa).

I. Persiapan Kemampuan Membaca
 
Membaca adalah aktifitas belajar yang dominan memerlukan indera visual dan juga melibatkan fungsi penginderaan lain di otak, yaitu :

Fungsi luhur (High Brain Function), seperti visual, auditory dan sensomotorik. Mengenal bunyi huruf, mengenal rangkaian kata yang sederhana-komplek, mengenal perbedaan intonasi yang dilakukan melalui bernyanyi, membacakan buku, bertepuk tangan mengikuti irama, menyebut nama dengan perlahan menurut suku kaya dengan intonasi yang jelas.

Biasanya pada anak, dapat ditandai dengan adanya ketertarikan terhadap:

Bahasa lisan (Kosa kata, menunjukkan bahasa, mendengar, paham)
Mulai tertarik dengan fonologi (irama, campuran, potongan)
Mulai sadar pada tulisan
Pengetahuan tentang abjad

Persiapan diawali melatih:

Visual
Meningkatkan konsentrasi mata, dengan mengenalkan huruf-huruf yang difokuskan pada pelihatan dalam waktu tertentu pada waktu yang berbeda-beda (Visual Attention)
Memperlihatkan kembali huruf-huruf yang pernah diperlihatkan untuk dikenali kembali (Visual Recognition)

• Melakukan latihan didalam ruangan dengan menggerakan bola mata keatas, kebawah, kekiri dan kekanan serta melihat benda dalam jarak yang jauh dan dekat, memfokuskan mata pada sesuatu pandangan yang (Visual motorik otot mata 3,4,6)

• Mengenal huruf melalui gerakan anggota tubuh sendiri atau anggota tubuh teman bermain, membentuk kalimat melalui huruf-huruf yang dibuat dalam kelompok bermain (Visual Spatial)

• Melakukan latihan seperti diatas, hanya saja dilakukan di luar ruangan, seperti di taman yang luas (Luas Lapang Pandang)

Audiomotorik

Melakukan pengenalan bunyi-bunyi huruf melalui pendengaran dan mengulang-ulang dalam bentuk suara baik dengan mata terbuka maupun dengan mata tertutup. Dapat dilakukan dengan bernyanyi dan menari/gerak badan.


II. Persiapan Logik matematik dan Berhitung

Kemampuan berhitung adalah kemampuan logik matematik berupa symbol-simbol yang dikongretkan melalui kegiatan-kegiatan yang memerlukan kemampuan visual dan sensorik yaitu:

· mengenalkan konsep ukuran (measurement), melalui raba (berat-ringan, padat-cair)

· mengenalkan konsep suhu (panas, dingin)

· melalui pelihatan (visual), seperti : tinggi-rendah, panjang-pendek, besar-kecil

· mengenalkan urutan (sequencing), melalui urutan-urutan warna-warna sebagai simbol

· mengenalkan dengan cara bermain dengan baris (baris bertambah-baris berkurang dan mengkaitkan urut-urutan berbaris dengan angka dan huruf.


III. Persiapan Kemampuan Menulis

Dalam upaya mempersiapkan anak menuju kemampuan menulis maka perlu diperhatikan tahapannya menuju kemampuan menulis, sbb:

a. Kemampuan motorik halus :

Yaitu kemampuan memegang dengan jari, dilatih dengan proses latihan menggunting. Dalam kegiatan menggunting, anak secara langsung mengalami proses pembelajaran untuk memperkuat koordinasi tangan dan kemampuan genggaman penjepit, dimana anak memulai dengan latihan memungut benda-benda dengan penjepit, memainkan jari untuk menulis (ibu jari, telunjuk, dan jari tengah). Tahapan kegiatan awal menggunting untuk memperkuat koordinasi jari tangan, menjepit dengan ibu jari dan telunjuk, adalah :

  • Memungut obyek-obyek kecil
  • Menggunakan ibu jari dantelunjukMain jari menggunakan jari-jari menulis (ibu jari, telunjuk, dan jari tengah)
  • Meraup
  • Merobek. dan sebagainya

Dengan seluruh tangan

Dengan ibu jari dan telunjuk

Hal lain yang dapat dilakukan untuk memperkuat koordinasi tangan pada anak usia dini lainnya adalah dengan latihan meremas, merobek sepenuh tangan dan merobek dengan tangan.

Selanjutnya dikembangkan dengan melatih motorik halus dengan latihan mencoret. Latihan mencoret sangat penting bagi anak usia dini, dengan memperhatikan beberapa tahapan mencoret yang dimulai dari :

· Coretan awal/coretan acak

· Coretan terarah, seperti garis-garis atau titik-titik yang dilakukan secara berulang-ulang

· Pengulangan garis dan bentuk khusus

· Berlatih huruf

· Menulis nama

· Menyalin kata-kata yang ada di lingkungan

· Menemukan ejaan

· Ejaan baku

Dilanjutkan dengan latihan koordinasi antara pelihatan (mata dengan tangan). Dapat dilakukan melalui kegiatan meronce manik-manik dan tali yang memiliki tahapan, sebagai berikut :

1. Main mengosongkan/mengisi

2. Merangkai–digunakan sebagai bahan main peran (kalung)

3. Merangkai terus menerus

4. Merangkai berdasarkan warna

5. Merangkai berdasarkan bentuk

6. Merangkai berdasarkan warna dan bentuk

7. Merangkai berdasarkan warna, bentuk dan ukuran]
8. Membuat pola sendiri
9. Membaca pola kartu dari bermacam-macam tingkat kesulitan
  • Serta meningkatkan kemampuan menggambar, yaitu dengan menjiplak, seperti tahapan diatas ditambah dengan latihan visualisasikan apa yang dilihat, menjiplak, meniru dan membuat pola sendiri.
  • Visual Attention/recognition: mengenal bentuk huruf melalui kegiatan perabaan dan menjiplak
  • Melatih gerakan-gerakan motorik halus, melalui gerakan tarian yang menggutamakan pada gerakan tangan, meronce, memegang benda-benda kecil, benda-benda halus, menempatkan benda pada posisi-posisi sulit, merobek, meremas-remas, coret-coretan tidak teratur, coret-coretan tidak teratur, pengulangan garis dan bentuk-bentuk khusus, berlatih huruf, menulis nama, menyalin kata lengkap, menemukan ejaan awal, tengah, akhir, meraup, menggunting, dll 
  • Melakukan stimulasi kinaestetik, musik, emosi, kemampuan intrapersonal dalam satu kegiatan bermain gerak dan lagu
  • Bermain peran, melalui gerak dan lagu.

Sumber: Disarikan dari berbagai sumber!!
Selengkapnya →