Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN ANAK. Tampilkan semua postingan

10 ALASAN UNTUK TIDAK MEMUKUL ANAK ANDA

By sulthan on Sabtu, 01 Agustus 2015

10 ALASAN UNTUK TIDAK MEMUKUL ANAK ANDA

1. Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari (penerjemah: memukul dlm bab ini disebutkan sebagai spanking atau memukul bokong)

Ada sebuah cerita klasik mengenai seorang ibu yang meyakini bahwa memukul merupakan bagian penting dari disiplin. Sampai suatu hari ia mengamati putri kecilnya yang berusia 3 tahun memukul adik lelakinya yang berusia 1 tahun. Ketika ditanya putri kecilnya berkata, “Aku hanya pura pura menjadi ibu”. Ibu ini kemudian tidak pernah lagi memukul anak anaknya.

Anak anak suka sekali menirukan, terutama orang orang yang mereka sayangi dan hormati. Mereka menganggap bahwa tidak apa apa untuk melakukan apapun yang anda lakukan. Sebagai orang tua ingatlah bahwa anda sedang membesarkan seseorang yang juga akan menjadi ibu atau ayah, atau menjadi seorang suami atau istri kelak. Teknik disiplin yang sama dengan yang anda terapkan pada anak anak yang paling mungkin mereka gunakan untuk mendidik anak anak mereka nantinya. Keluarga merupakan sebuah pelatihan untuk mengajari anak bagaimana untuk menangani konflik. Penelitian menunjukkan bahwa anak dari keluarga yang suka memukul lebih mungkin untuk menggunakan cara kekerasan untuk menangani konflik ketika mereka dewasa kelak.

Memukul menunjukkan bahwa sah sah saja seseorang memukul orang lainnya, Terutama bagi orang yang lebih besar untuk memukul mereka yang lebih kecil. Dan bagi mereka yang kuat untuk memukul yang lebih lemah. Anak anak belajar bahwa ketika anda memiliki masalah maka anda akan menyelesaikannya dengan pukulan. Seorang anak yang tingkah lakunya dikendalikan dengan pukulan cenderung untuk menggunakan cara ini untuk berinteraksi dengan saudara yang lain, teman sebaya, dan pada akhirnya pasangan juga keturunan.

Jika anda katakan, “Saya tidak memukul anak saya dengan keras, juga tidak terlalu sering. Lebih banyak waktu yang saya habiskan untuk menunjukkan cinta dan kasih saying saya. Sesekali pukulan di pantat tidak akan apa apa”. Logika ini berlaku bagi beberapa anak namun pada anak anak lain pesan memukul akan terekam kuat. Anda mungkin punya rasio antara memeluk dan memukul 100:1 di rumah, tapi anda melupakan resiko bahwa anak anda akan mengingat dan terpengaruh oleh satu pukulan itu ketimbang 100 pelukan. Terutama jika pukulan itu dilayangkan ketika sedang dilanda marah atau perasaan ketidakadilan, yang mana terlalu sering terjadi.

Hukuman fisik menunjukkan bahwa tidak apa apa untuk melampiaskan kemarahan dengan pukulan atau memukul orang lain karena bersalah. Inilah mengapa perilaku orang tua menjadi kesan yang sangat mendalam seperti pukulan itu sendiri. Bagaimana mengendalikan dorongan untuk memukul seseorang (mengendalikan pukulan) adalah satu hal yang sedang anda coba ajarkan pada anak anda. Dengan memukul maka ajaran ini sudah disabotase. Dalam panduan memukul pantat biasanya diberikan peringatan untuk tidak memukul dalam keadaan marah. Jika panduan ini ditaati maka 99% pemukulan tidak akan terjadi, karena sekali orang tua telah menenangkan diri maka ia bisa mengatasi masalah dengan metode yang tepat.

VERBAL DAN EMOSIONAL “MEMUKUL”

Pukulan secara fisik bukanlah satu satunya untuk melakukan kekerasan. Segala sesuatu yang kita sebut hukuman fisik berkaitan dengan hukuman verbal/ emosional juga. Makian dan nama panggilan yang buruk juga dapat lebih membahayakan anak secara psikologis. Pelecehan secara emosional dapat terjadi dengan sangat halus dan bahkan menohok. Ancaman untuk memaksa seorang anak bekerjasama dapat menyentuh pada hal yang paling ditakutinya = ditinggalkan (“Kalau gak nurut nanti mama tinggal lho!”). Seringkali ancaman akan ditinggalkan memberi pesan bahwa anda tidak tahan dengannya atau pukulan secara emosional (dengan membiarkan dia tau anda bahwa anda menarik cinta anda, menolak untuk berbicara kepadanya atau mengatakan anda tidak menyukainya jika melanjutkan untuk mengecewakan anda). Bekas luka dalam pikiran/ hati jauh lebih lama sembuhnya ketimbang luka pada tubuh.

2. Memukul Akan Merendahkan Anak

Citra diri anak akan dimulai dengan bagaimana ia melihat orang lain -terutama kedua orang tuanya- memandang dirinya. Bahkan di dalam rumah yang penuh cinta, pukulan memberikan pesan yang membingungkan, terutama bagi anak yang terlalu muda untuk mengerti mengapa ia dipukul. Orang tua menghabiskan banyak waktu untuk membuat bayi atau anak anak merasa bernilai, membantu anak anak merasa “lebih baik”. Kemudian si anak memecahkan kaca, anda memukulnya dan ia merasa, “Aku pasti sangat buruk”.

Bahkan pelukan orang tua untuk mengatasi perasaan bersalah setelah pemukulan tidak menghilangkan luka. Anak kemungkinan tetap merasakan pukulan, pada tubuhnya maupun dalam hatinya, lama setelah pemukulan. Kebanyakan anak anak berada pada situasi ini akam memeluk untuk minta belas kasih. “Kalau aku memeluknya, ayah akan berhenti memukulku”. Ketika pemukulan terjadi berulang kali, sebuah pesan terkirim ke rumah kepada anak anda, “Kamu lemah dan tak berdaya”.

Joan, seorang ibu yang penuh kasih, meyakini bahwa memukul adalah hak dan kewajiban orang tua untuk merubah anak menjadi patuh. Dia merasa bahwa, “Memukul anak adalah “Untuk anak itu sendiri”. Setelah beberapa bulan ia menerapkan pukulan sebagai cara pendisiplinan, si balita terlihat menarik diri. Joan melihat anaknya bermain sendirian di sudut, tidak tertarik pada teman bermainnya, dan menghindari kontak mata dengan sang ibu. Anaknya telah kehilangan kecerian sebelumnya. Dari luar ia adalah seorang “Anak yang baik”. Dalam hati, si anak mengira bahwa ia adalah anak nakal. Ia merasa tidak tenang dan merasa tidak pernah bertindak dengan benar. Pukulan membuatnya merasa lebih kecil dan lemah, dikuasai oleh orang orang yang lebih besar darinya.

Memukul Tangan Anak (Slapping Hands)
Betapa menggoda memukul tangan tangan kecil yang usil itu. Banyak orang tua yang melakukan hal tersebut tanpa berfikir panjang dan mempertimbangkan konsekuensinya. Maria Montessori, seorang yang paling awal menentang pemukulan terhadap tangan anak anak, percaya bahwa tangan anak anak adalah alat untuk menjelajah, perpanjangan dari rasa ingin tahu alami si anak. 

Memukul tangan mereka mengirimkan pesan negatif yang kuat. Orang tua yang peka yang telah kami wawancarai, semua setuju bahwa tangan harusnya terlarang bagi hukuman fisik. Hasil penelitian mendukung ide ini. Psikolog mempelajari sebuah kelompok yang terdiri dari anak usia empat belas dan enam belas bulan yang sedang bermain dengan ibu mereka. Ketika sekelompok balita mecoba menangkap objek yang terlarang, mereka menerima pukulan di tangan sedangkan kelompok balita lain tidak menerima hukuman fisik. Dalam studi lanjutan anak anak ini tujuh bulan kemudian, bayi bayi yang dihukum fisik ditemukan kurang terampil dalam menjajaki lingkungan mereka. Oleh karena itu, lebih baik memisahkan mereka dari benda benda berbahaya atau mengawasi explorasi agar tangan tangan kecil mereka tidak terluka.

3. Memukul Akan Merendahkan Orang Tua itu Sendiri

Orang tua yang mendisiplinkan anaknya dengan memukul atau menghukum anak melewati batas sering menilai rendah dirinya karena jauh dalam lubuk hati mereka merasa tidak benar dalam mendisiplinkan anak. Seringkali mereka memukul (atau berteriak) dalam keputusasaan karena mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan, kemudian setelah itu mereka merasa lebih tak berdaya menemukan bahwa memukul itu tidak berguna. Sebagai seorang ibu yang menjatuhkan pukulan sebagai cara pendisiplinan katakan, “Saya menang pertempuran meskipun kalah perang. Anak saya sekarang ketakutan pada saya dan saya merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga”.

Memukul juga merendahkan peran orang tua. Memiliki otoritas bermakna, anda dipercayai dan dihormati tetapi bukan ditakuti. Otoritas penuh tidak didasarkan pada rasa takut. Orang tua atau pengasuh yang berulang ulang menggunakan pukulan untuk mengendalikan anak anak masuk dalam situasi kalah – kalah. Tidak hanya si anak kehilangan rasa hormat terhadap orangtuanya, tetapi orangtua juga telah kalah karena mereka mengembangkan pola pikir ‘memukul’ dan tidak memiliki alternatif selain memukul. Sedikit sekali orang tua memiliki rencana dan pengalaman bagaimana mengalihkan perilaku potensial anak sehingga anak yang bertingkah berlebihan tidak terpanggil untuk memukul. Anak ini tidak pernah diajarkan untuk memiliki kendali dalam dirinya.

Mereka merendahkan hubungan orangtua-anak. Memberikan hukuman fisik pada anak membuat suatu jarak antara pemukul dan yang dipukul. Jarak ini kemudian menjadi masalah dalam rumah yang situasi orangtua-anak memang sudah tegang, misalkan pada orangtua tunggal atau keluarga yang tinggal dengan keluarga besar. Untuk beberapa anak mereka begitu pemaaf dan kembali seperti semula tanpa kesan negatif pada pikiran atau perilaku, tapi buat yang lain sangat sulit untuk kembali mencintai orang yang sudah memukul mereka.

4. Pemukulan Dapat Menjurus Pada Penganiayaan

Hukuman meningkat. Sekali anda mulai menghukum anak “sedikit saja” kapan anda akan berhenti? Ketika seorang balita mencoba meraih gelas yang dilarang, anda menahan tangannya untuk mengingatkan untuk tidak memegang. Ia coba meraihnya lagi, anda memukul tangannya. Setelah menarik tangannya sebentar, ia sekali lagi meraih vas kesayangan nenek. Anda memukul tangannya lebih keras. Anda telah memulai sebuah permainan yang tak seorangpun akan menang. Masalahnya kemudian menjadi siapa yang lebih kuat -tangan anda atau tangan anak anda- bukan lagi masalah menyentuh vas bunga. Apa yang anda lakukan sekarang? 

Memukul lebih keras dan lebih keras lagi sampai tangan si anak kesakitan sampai dia tidak mungkin lagi berbuat ‘tidak patuh’? Tanda bahaya saat hukuman pertama dimulai ketika anda merasa anda harus membawa senjata yang lebih besar: tangan anda berubah menjadi sebuah tinju, pukulan berubah menjadi sebuah sabuk, gulungan koran berubah menjadi sendok kayu, dan yang terjadi sekarang nampaknya tidak salah meningkat menjadi penganiayaan anak.

 Hukuman fisik secara bertahap meningkat menjadi penganiayaan anak. Orangtua yang punya pola pikir ‘hukuman fisik’ akan menyiapkan diri untuk menghukum lebih keras lagi, terutama karena mereka tidak belajar untuk memiliki alternatif lain dan sudah menyetel pikirannya untuk menghukum begitu anaknya melakukan berbuat salah.

5. Memukul Tidak Akan Memperbaiki Tingkah Laku

Seringkali kami mendengar para orangtua berkata, “ Semakain kami memukulnya, ulahnya semakin menjadi jadi”. Pemukulan membuat perilaku anak bertambah buruk, bukannya lebih baik. Inilah sebabnya. Ingatlah pada dasar untuk mengajak pada perilaku yang diinginkan. Anak yang merasa nyaman akan bertingkah laku menyenangkan. Inilah sebabnya. 

Pemukulan mengeliminasi prinsip ini. Seorang anak yang dipukul akan merasa ada yang salah dalam dirinya dan ini akan muncul dalam perilakunya. Semakin ia bertingkah, semakin banyak pukulan didapatkannya dan semakin tidak nyaman perasaannya. Siklus berlanjut. Kita ingin anak tahu bahwa ia telah berbuat salah, dan ia merasakan penyesalan, namun kita masih ingin anak tahu bahwa ia berharga.

Siklus Kenakalan
Kenakalan, perilaku buruk, pemukulan mengurangi kepercayaan diri, juga menyebabkan kemarahan. Salah satu tujuan dari pendisiplinan adalah untuk menghentikan kenakalan sesegera mungkin dan pemukulan memungkinkannya. Adalah lebih penting untuk menciptakan keyakinan dalam diri anak agar ia tidak ingin mengulangi kenakalannya (yaitu, pengendalian diri dari dalam ketimbang dari luar). 

Salah satu alasan kalau pemukulan tidak efektif yaitu dalam menciptakan kendali dari dalam diri bahwa selama dan segera setelah pemukulan si anak mulai terfokus pada ketidakadilan fisik (atau pada tahap itu ia akan mulai mempertanyakannya) dan melupakan alasan mengapa ia dipukul. Duduklah dan berbicaralah dengannya setelah pemukulan untuk meyakinkan bahwa ia sadar bahwa apa yang diperbuatnya dapat dilakukan juga (bahkan lebih baik) tanpa pemukulan. Pilihan untuk memukul akan lebih dipikirkan dan dirasakan oleh anak, namun pemukulan menguras tenaga dan waktu dari orangtua. Itulah sebabnya beberapa orangtua lebih memilih memukul –cara ini paling mudah.


6. Memukul Sebenarnya Tidak Dianjurkan Oleh Kitab Suci.

Jangan gunakan kitab suci sebagai pembenar untuk memukul. Ada sebagian orang yang percaya bahwa dalam kitab suci untuk memdidik anak, Tuhan membenarkan memukul. Mereka yakin bahwa jika mereka tidak memukul anak maka mereka akan kehilangan kendali atas anak anak dan mereka akan berdosa. Dalam pengalaman konseling kami, kami menemukan bahwa orang orang ini adalah orangtua yang mencintai Tuhan dan anak anak mereka tetapi salah dalam memahami makna ayat kitab suci. Apa yang tertulis dalam kitab suci tidak dapat benar benar kita pahami dan terkadang membingungkan.

JANGAN PUKUL ANAK. Ada beberapa orangtua yang seharusnya tidak memukul dan ada anak anak yang tidak boleh dipukul. Apakah ada penyebab dalam hidup anda, temperamen anda, atau hubungan anda dengan anak anda yang menempatkan anda dalam kondisi untuk menyakiti anak? Apakah ada karakteristik dalam diri anak anda yang membuat anda memukulnya?
• Apakah anda pernah dipukul ketika kecil dulu?
• Apakah anda mudah kehilangan kendali atas diri anda?
• Apakah anda sering memukul namun tidak berhasil?
• Apakah anda memukul lebih keras?
• Apakah memukul tidak ampuh?
• Apakah anda memiliki seorang anak yang memiliki ketertarikan yang besar terhadap sekeliling? Anak yang berkemauan keras?
• Apakah anak anda sangat sensitif perasaannya?
• Apakah hubungan anda dengan anak anda menjauh?
• Apakah ada masalah pada saat ini yang membuat anda marah, semisal persoalan keuangan, masalah dalam perkawinan atau baru kehilangan pekerjaan? Adakah faktor faktor yang menurunkan rasa percaya diri anda?

Jika jawaban untuk pertanyaan pertanyaan diatas adalah ya, maka anda seharusnya secara bijaksana mengembangkan mindset ‘tidak memukul’ dalam pikiran anda. Dan siapkan alternatif hukuman pengganti non jasmani yang paling baik. Jika anda merasa anda kurang mampu untuk melakukan ini maka, maka berbicaralah dengan seseorang yang dapat membantu anda.

7. Memukul Dapat Memicu Kemarahan dalam Diri Orangtua dan Anak

Anak anak sering menganggap hukuman itu tidak adil. Mereka lebih cenderung memberontak terhadap hukuman fisik daripada terhadap tehnik disiplin lainnya. Anak anak belum dapat berfikir rasional layaknya orang dewasa, namun mereka memiliki rasa keadilan bawaan –meskipun standarnya tidaklah sama dengan orang dewasa. Hal ini kiranya dapat mencegah pemberian hukuman karena dapat berkontribusi pada kemarahan anak. Seringkali perasaan ketidakadilan meningkat menjadi perasaan malu. Ketika hukuman merendahkan diri anak anak maka mereka akan memilih menarik diri atau memberontak. Walaupun pemukulan dapat membuat anak takut untuk melakukan kenakalan, tetapi lebih mungkin untuk membuat anak ketakutan dengan si pemukul.

Dalam pengalaman kami, dari banyak kasus yang telah kami teliti anak anak yang perilakunya dikendalikan oleh pukulan selama masa bayi hingga kanak kanak dapat saja nampak baik dari luar, namun menyimpan kemarahan yang berapi api dalam dirinya. Mereka merasa bahwa dirinya sudah diperlakukan dengan jahat dan mereka kemudian memisahkan diri dari dunia yang dianggap sudah tidak adil kepda mereka. Mereka menemui kesulitan untuk percaya kepada orang lain, menjadi tidak sensitif terhadap dunia yang telah tidak sensitif kepada mereka.

Para orangtua yang mengecek perasaannya setelah pemukulan seringkali menyadari yang mereka lakukan adalah untuk membebaskan diri dari kemarahan. Pelepasan kemarahan sering menjadi candu –mengabadikan sebuah siklus pendisiplinan yang tidak efektif. Kami telah menemukan bahwa cara terbaik untuk mencegah diri kita dari dorongan untuk memukul adalah menanamkan dalam diri kita keyakinan:
a) Bahwa kita tidak akan memukul anak anak kita
b) Bahwa kita akan mendisiplinkan mereka
Karena kita sudah memutuskan bahwa memukul bukanlah suatu pilihan maka kita harus mencari alternative yang lebih baik.

8. Memukul Dapat Mengingatkan Kembali Kenangan Buruk

Kenangan buruk akan selalu membekas dalam ingatan seorang anak yang pernah dipukul, dan akan membekaskan luka dibandingkan dengan kenangan yang menyenangkan. Karena memang kecenderungan manusia adalah untuk mengingat kembali kenangan yang traumatis. Saya tumbuh di rumah yang sangat nyaman, namun saya sesekali dan memang “sepatutnya” dipukul. Aku masih dapat mengingat dengan jelas adegan cabang (pohon) willow.

Setelah saya melakukan suatu kesalahan maka kakek akan menyuruh saya ke kamar dan mengatakan bahwa saya akan menerima pukulan. Aku ingat bagaimana aku melihat keluar jendela dan melihatnya melintasi halaman kemudian mengambil cabang pohon willow, kembali ke kamarku dan memukul bokongku dengan cabang tersebut. Cabang willow nampaknya menjadi alat pemukul yang efektif karena bekas pukulannya yang perih dan meninggalkan kesan pada saya secara fisik dan mental. 

Meskipun saya ingat dibesarkan dalam rumah yang penuh kasih sayang, saya hampir tidak ingat adegan kebahagiaan secara spesifik seperti saya mengingat detil detil adegan pemukulan. Saya selalu berfikir bahwa salah satu tujuan kita sebagai orangtua adalah untuk mengisi bank memori anak anak kita dengan ratusan bahkan ribuan adegan adegan yang menyenangkan. Sangat tidak menyenangkan mengetahui bahwa kenangan buruk menghalangi kemajuan yang positif.

9. Pemukulan Pada Anak Memiliki Dampak Jangka Panjang yang Buruk

Penelitian telah menunjukkan bahwa memukul dapat meninggalkan bekas luka yang mendalam dan abadi ketimbang sekedar lebam kebiruan di permukaan kulit. Berikut ini ringkasan dari penelitian tentang efek jangka panjang dari hukuman fisik:
• Dalam sebuah penelitian yang berlangsung selama sembilan belas tahun, para peneliti menemukan bahwa anak anak yang dibesarkan di rumah rumah yang banyak memberlakukan hukuman fisik ternyata lebih antisocial dan egosentris, dan bahwa kekerasan fisik yang diterima menjadi norma bagi anak anak ini ketika mereka menjadi remaja dan orang dewasa.
• Mahasiswa menunjukkan banyak gangguan psikologi jika mereka dibesarkan dalam sebuah rumah dengan sedikit pujian, banyak kemarahan, banyak hukuman fisik dan banyak ejekan/ celaan (pelecehan verbal).
• Sebuah survey terhadap 679 mahasiswa perguruan tinggi menunjukkan bahwa mereka yang mengingat pernah dipukuli ketika kecil menganggap pemukulan sebagai cara pendisiplinan dan bermaksud untuk mendisiplinkan anak mereka kelak dengan memukul juga. Mahasiswa yang tidak dipukuli ketika kanak kanak secara signifikan kurang bisa menerima praktek tersebut ketimbang mereka yang pernah dipukul. Para mahasiswa yang pernah dipukuli tersebut mengingat bahwa orangtua mereka dalam kondisi marah selama memukul mereka. Mereka mengingat dengan baik keduanya, pukulan dan amarah orangtuanya.
• Pemukulan nampaknya memiliki efek negative jangka panjang ketika ditempatkan dalam kerangka dengan komunikasi positif dengan anak. Pukulan dapat memiliki efek yang tidak terlampau merusak jika dilakukan dalam rumah yang penuh cinta dan lingkungan yang harmonis.
• Sebuah studi tentang efek hukuman fisik pada perilaku agresif anak anak di kemudian hari menunjukkan bahwa semakin sering seorang anak diberikan hukuman fisik, maka semakin besar kemungkinan ia bersikap agresif terhadap anggota keluarga lainnya maupun teman sebayanya.
• Pemukulan dapat mengakibatkan sedikit agresi jika dilakukan dalam lingkungan sepenuhnya terpelihara dan anak selalu diberi penjelasan rasional mengapa pemukulan itu terjadi.
• Sebuah studi untuk menentukan apakah pukulan di tangan anak memiliki efek jangka panjang, menunjukkan bahwa balita mengalami kemunduran perkembangan eksplorasi sejauh 7 bulan.
• Orang dewasa yang menerima banyak hukuman fisik ketika remaja,rata rata melakukan pemukulan terhadap pasangannya 4 kali lebih besar ketimbang mereka yang tidak dipukul oleh orangtuanya.
• Suami yang dibesarkan dalam rumah yang penuh kekerasan akan 6 kali lebih mungkin memukul istri mereka daripada laki laki yang dibesarkan dalam rumah yang tanpa kekerasan.
• Satu dari empat orangtua yang dibesarkan dalam rumah yang penuh kekerasan memiliki resiko mencederai anak anak mereka dengan kekerasan pula.
• Studi populasi penjara menunjukkan bahwa sebagian besar penjahat yang kejam dibesarkan dalam lingkungan rumah yang penuh kekerasan.
• Sejarah hidup dari para penjahat, pembunuh, perampok, pemerkosa terkenal cenderung menunjukkan disiplin berlebihan di masa kanak kanak.

Bukti bukti yang menentang pemukulan begitu banyak. Ratusan penelitian yang dating bermuara pada kesimpulan yang sama :
1) Semakin banyak hukuman fisik yang diterima anak maka akan semakin agresif ia jadinya.
2) Semakin anak dipukuli, maka semakin besar kemungkinan mereka akan kasar terhadap anak anak mereka sendiri
3) Pemukulan menumbuhkan benih perilaku kekerasan di kemudian hari.
4) Pemukulan terbukti tidak efektif.

10. Pemukulan Terbukti Tidak Efektif

Banyak studi menunjukkan pemukulan sebagai teknik disiplin adalah sia sia, dan tidak seorangpun dapat menunjukkan manfaatnya. Dalam tigapuluh tahun terakhir di dunia pediatric (kedokteran anak), kami telah mengamati ribuan keluarga yang telah berusaha memukul dan itu tidak berhasil. Kesan kami secara umum adalah para orangtua akan lebih sedikit memukul sejalan dengan bertambahnya pengalaman mereka. 

Memukul tidak efektif bagi si anak, tidak juga bagi orangtua, juga bagi komunitas sekitar. Pemukulan tidak mengajak pada perilaku yang baik, ia menciptakan jarak antara anak dan orangtua, dan ia berkontribusi dalam menciptakan kejahatan dalam masyarakat. Orangtua yang mengandalkan hukuman sebagai modus utama mereka mendisiplinkan anak tidak berkembang pengetahuannya tentang anak mereka sendiri. Hal tersebut menjauhkan mereka dari menciptakan alternative yang lebih baik, yang mana mampu membantu mereka mengenali anaknya dan membangun hubungan baik. 

Dalam proses membesarkan delapan anak kami, kami pun telah menyimpulkan bahwa pemukulan tidaklah efektif. Kami menemukan diri kami semakin kurang memukul sejalan bertambahnya pengalaman juga bertambahnya jumlah anak anak. Dalam rumah kami, kami telah merencanakan diri kami untuk menentang pemukulan dan berkomitmen untuk menciptakan suatu sikap dalam diri anak anak kami, dan suasana dalam rumah kami, yang membuat memukul itu tidak dibutuhkan. Sejak pemukulan bukan lagi sebuah pilihan, kita dipaksa untuk memiliki alternative yang lebih baik. Ini tidak hanya membuat kita menjadi orangtua yang lebih baik, namun dalam jangka panjang kami percaya hal itu akan menciptakan anak anak lebih sensitif dan berperilaku baik.*
(Smart Parenting, by Bunda Arifah Handayani)

Selengkapnya →

10 TANDA ANAK ANDA PUNYA OTAK CERDAS

By sulthan on Jumat, 31 Juli 2015

Perilaku Nakal di Masa Kecil Tanda Sukses di Masa Depan?

Memiliki buah hati yang kerap berperilaku nakal sering kali membuat orangtua resah dan lelah. Namun, ternyata sikap nakal tersebut bisa berbalik positif kelak anak beranjak dewasa. Apa pasal?
 
Berdasarkan sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada jurnal Developmental Psychology, anak-anak yang susah diatur saat kecil nantinya memiliki penghasilan lebih tinggi saat dewasa ketimbang anak-anak yang penurut.
Penelitian dilakukan oleh para ahli dari University of Luxembourg, University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat, dan Free University of Berlin di Jerman.

Pada tahap pertama, para peneliti melakukan pengamatan dan pengujian terhadap sekelompok anak berusia 12 tahun pada tahun 1968. Pengamatan dan pengujian tersebut dilakukan terhadap 745 orang anak-anak.
Adapun beberapa aspek yang diteliti antara lain kecerdasan, perilaku, dan status sosio-ekonomi. Lalu, 40 tahun kemudian, yakni pada tahun 2008, para peneliti kembali mengevaluasi individu-individu tersebut guna mengetahui apakah perilaku mereka saat kanak-kanak bisa menjadi pantulan mengenai seperti apa masa depan mereka?
Secara mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa para individu yang menunjukkan perilaku nakal saat kanak-kanak cenderung lebih sukses dalam karier. Mereka yang acap kali melanggar peraturan dan melawan otoritas, seperti orangtua dan guru, tumbuh dewasa dengan jenjang karier yang cemerlang dan berpenghasilan tinggi.


Lalu, apa sebenarnya penjelasan yang mampu menyimpulkan hasil penelitian yang menarik ini? Menurut para peneliti dalam laporan mereka, penjelasan yang paling sederhana untuk hasil penelitian tersebut adalah bahwa sifat menantang dapat membuat individu lebih gesit dalam mencari peluang dan kerja yang memberikan penghasilan besar. Selain itu, anak-anak yang semasa kecilnya sering memberontak dan nakal, ternyata memiliki luapan semangat untuk membuktikan bahwa mereka bisa memiliki kehidupan yang sukses.

Nah, mulai kini Anda harus memperhatikan perilaku buah hati Anda secara cermat. Jadi, apabila si kecil memperlihatkan perilaku galak dan nakal, jangan langsung panik dan mendisiplinkan dengan gaya otoriter. Sebaiknya, pertebal kesabaran Anda untuk memberikan penjelasan yang dapat diterima anak terkait perilakunya tersebut.


Secara bijak, komunikasikan pada anak perilaku yang sesuai dan layak di lingkungan sosial. Lebih dari itu, orangtua jangan sekadar mengajarkan saja, tetapi juga harus berani memberikan contoh nyata kepada anak-anak mereka. (kompas-com) 
Hampir semua orang tua mengidamkan punya anak yang pintar dan cerdas. Tips untuk mengenali Ciri Ciri Anak yang Pintar dan Cerdas. 10 TANDA ANAK ANDA PUNYA OTAK CERDAS :

1. Mempertahankan Informasi: Istilah "masuk telinga kiri keluar telinga kanan" nampaknya berlaku bagi kebanyakan anak. Akan tetapi anak yang pintar benar-benar mempertahankan berbagai informasi dan mampu mengingatnya di lain waktu. Sebuah contoh dari National Association of Gifted Children (NAGC) ialah: "Seorang anak berusia enam tahun kembali dari perjalanan museum ruang angkasa dan mereproduksi kembali secara akurat gambar roket ruang angkasa yang telah dilihatnya.
2. Memiliki Ketertarikan Luas: Anak pintar menampilkan minat dalam berbagai topik. Mereka mungkin suka dengan dinosaurus dalam satu bulan, ruang angkasa bulan berikutnya, dan seterusnya.

3. Menulis dan Membaca Lebih Awal: Jika anak anda adalah seseorang yang pintar, dia mungkin dapat membaca dan menulis sangat dini dan tanpa pengajaran formal.

4. Berbakat di Bidang Musik atau Seni: Anak yang menampilkan bakat luar biasa untuk musik dan seni sering dianggap pintar. Anak yang dapat menggambar, bernyanyi dengan sempurna, atau menampilkan bentuk persepsi seni yang tinggi lainnya biasanya masuk dalam kategori anak pintar.

5. Menunjukkan Waktu Konsentrasi Intens: Anak tidak begitu identik dengan rentang perhatian yang panjang, tapi anak pintar mampu memiliki waktu lebih konsentrasi intens.

6. Memiliki Ingatan Baik: Beberapa anak pintar mampu mengingat hal-hal sewaktu mereka lebih kecil. Misalnya, anak berumur dua tahun mungkin ingat dan membawa kembali kejadian ketika dia berusia 18 bulan.


7. Memiliki Kosakata Tinggi: Seorang anak yang terlalu dini untuk berbicara bukan saja merupakan tanda kepintaran, tapi jika anak anda berbicara menggunakan kosakata yang lebih maju dan kalimat-kalimat, maka dia mungkin memang sepintar yang anda bayangkan. Menurut NAGC, "Anak pada usia dua tahun membuat kalimat seperti: 'Ada anjing.' Anak dua tahun yang pintar mungkin akan berkata, 'Ada seekor anjing di belakang rumah dan ia mengendus bunga.'"

8. Memperhatikan Detil: Anak pintar memiliki mata tajam untuk detil. Anak yang lebih tua mungkin ingin tahu rincian spesifik tentang bagaimana segala sesuatu bekerja, sedangkan anak yang lebih muda akan dapat menaruh kembali mainan persis di mana ia mendapatkannya atau memperhatikan jika sesuatu telah dipindahkan dari tempat biasa.
9. Bertindak sebagai Kritikus Sendiri: Pada umumnya anak tidak terlalu khawatir tentang diri mereka sendiri atau orang lain, kecuali teman mereka memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Sebaliknya, anak pintar prihatin dengan orang lain, tapi yang paling penting diri mereka sendiri.
10. Memahami Konsep Kompleks: Anak yang sangat pintar memiliki kemampuan untuk memahami konsep yang kompleks, memahami hubungan, dan berpikir abstrak. Mereka mampu memahami masalah secara mendalam dan berpikir tentang solusi.

(wahw33d-blogspot-com)
Selengkapnya →

JURUS AMPUH MENDIDIK ANAK

By sulthan on Rabu, 29 Juli 2015

JURUS AMPUH MENDIDIK ANAK

Seringkali para orangtua dibuat frustasi sewaktu anak-anak mereka sulit sekali dinasihati dan dilarang melakukan sesuatu hal. Dinasihati tidak mendengar, diberikan pengertian tidak masuk sama sekali, apalagi sewaktu diberikan perintah, jangankan mendengar, mereka malah menolak mentah-mentah perintah kita dan berlalu begitu saja.
Namun lagi-lagi, meski diperlakukan demikian seringkali sebagai orangtua kita kalah dengan ego anak yang begitu tinggi dengan alasan mereka masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Namun tahukah anda, jika pola asuh yang demikian terus-terusan anda terapkan pada anak-anak, hal ini bukannya menyelesaikan masalah dan membuat anak anda menjadi patuh. Sebaliknya, sikap anda yang terus-terusan memberikan kesempatan pada anak sewaktu mereka melakukan kesalahan dengan berharap suatu hari nanti mereka bisa berubah menjadi patuh dan penurut adalah hal yang keliru. 

Memang benar, anak adalah buah hati tercinta yang kita lahirkan dengan susah payah yang sudah seharusnya kita cintai dan kita sayangi, namun ada begitu banyak cara yang tepat dalam mencintai anak dan menyayangi mereka. Memberikan mereka semua keinginannya dan terus-terusan mengalah pada anak bukanlah tindakan yang tepat dalam mencintai buah hati kita. Semua orangtua tentunya ingin jika anak yang dimilikinya tumbuh menjadi anak yang baik penuh kasih sayang, namun juga berbakti pada kedua orangtuanya.

Untuk itulah, ada masaya dimana anda harus dengan tegas mendidik mereka menjadi anak yang baik seperti yang anda harapkan. Semua tahapan yang akan anda lalui tentu akan sangat melelahkan dan mungkin membuat anda susah payah mendidik mereka. Namun pada akhirnya nanti, ketika anak anda telah tumbuh menjadi seseorang yang baik seperti yang anda harapkan, maka masa depan yang cerahlah yang akan mereka dapatkan.

Tidak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya pada lembah kesalahan, namun tentunya pola asuh dan cara mendidik anak harus anda perhatikan. Mendidik anak agar tumbuh menjadi seseorang yang patuh dan penurut tidak berarti harus dilakukan dengan keras seperti pola didikan para militer, yang terpenting adalah konsisten dan tegas. Buat anak bertanggung jawab dengan apa yang dimilikinya dan apa yang telah diperbuatnya. Dengan begini mereka akan mampu memelihara apa yang mereka miliki.

Namun juga tidak berarti dengan memberikan pola didikan keliru yakni dengan mengabulkan semua keinginan anak dan menghujaninya dengan harta benda mewah sebagai wujud kasih sayang anda yang tak terkira. Pola asuh yang seperti ini tentu saja tidak akan berhasil, sebab anak akan tumbuh menjadi seseorang yang manja dan merasa segala keinginannya harus dipenuhi, disamping itu sifat egoisme-nya juga akan semakin tinggi. Maka jangan heran jika ketika anda memberikan perintah atau meminta bantuan anda, mereka akan berlaku sesuka hati mereka dengan menolak atau mengabaikan anda.
Nah, cara berikut ini penting sekali diterapkan pada anak-anak ketika anda mendidik mereka agar bisa patuh sewaktu anda memberikan perintah.

1. Panggil Nama Mereka

Ketika anda membutuhkan bantuan anak-anak atau sewaktu anda hendak memberikan perintah kepada buah hati, hendaknya tidak usah berteriak atau mengomel dengan tidak jelas. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, hal ini tidak akan membuat anak anda seger menghampiri anda dan melakukan perintah yang anda berikan pada mereka. Sebaliknya, kondisi anak-anak malah akan terkejut, takut dan bahkan kesal dengan tidak mau menghampiri atau bahkan berpura-pura tidak mendengar. Anda tentu tidak ingin jika hal ini terjadi bukan? Nah, untuk itulah sebuah teriakan bukanlah cara yang baik mendidik anak.
Ada baiknya ketika anda membutuhkan mereka atau hendak memberikan perintah, segera hampiri mereka atau hampiri keluar saat mereka bermain diluar. Lalu dekati mereka dan katakan jika anda membutuhkan mereka dirumah. Ingatlah jaga citra anak-anak dihadapan teman mereka, jangan sampai anda memberikan perintah atau meneriaki anak-anak didepan teman-temanya. Hal ini akan membuat mereka malu dan malah jengkel pada diri anda. Ketika anak jengkel, maka bisa ditebak hal lain yang akan terjadi adalah pertengkaran dengan anak yang malah akan memperburuk suasana.

2. Dengarkan Anak-Anak Anda

Meski anda memberikan perintah pada anak-anak atau pada saat anda benar-benar membutuhkan mereka, ini bukan berarti anda harus mengabaikan mereka dan tidak mendengarkan keluahannya. Perilaku anak-anak yang menolak atau tidak mengabulkan perintah anda bisa dilatarbelakangi karena mereka capek sepulang sekolah, tidak enak hati dengan lingkungannya atau merasa tidak enak badan. Untuk itu, sebaiknya maklumi dan berikan perintah sesuai dengan kapasitas anak.

3. Kondisikan Perintah dengan Waktu Anak-Anak

Sewaktu anda memberikan perintah dan anak-anak terlihat malas melakukannya, jangan terlalu dini menghakimi bahwa anak anda malas dan sulit diberikan perintah. Kondisikan terlebih dahulu dengan waktu anak, apakah kala itu anda memberikan perintah saat anak baru saja pulang sekolah, pulang les atau saat anak lelah pulang bermain. Hal ini tentu saja akan menguras tenaga anak sewaktu anda memberikan perintah. Untuk mengatasi hal ini adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk beristirahat sejenak dan meminta mereka saat tenaganya sudah kembali pulih. Selain itu, mintalah dengan sopan, kondisi lelah pada anak akan membuat segala hal yang membebaninya menjadi sebuah tekanan untuk dirinya. Dengan meminta lewat cara yang sopan akan membuat tekanan dalam diri anak memudar dan membuat mereka lebih mungkin mau melakukan perintah anda.

4. Tatapan Mata Anda Pada Mereka

Sebuah tatapan matamemiliki kekuatan untuk menunjukan sebuah perasaan. Ketika orangtua menatap mata anaknya, maka mereka akan melihat bahwa kita memberikan perhatian, bukannya amarah dan perintah yang telak yang mendikte mereka. Dengan menatap mata anak, mereka akan paham betapa anda membutuhkan mereka dan ingin anak anda memberikan bantuannya. Selain itu, tatapan mata akan membuat anak merasa dipedulikan dan diperhatikan. Untuk itu, jangan lupa tatap mata anak dan letakan tangan anda dibahunya sewaktu anda ingin memberikan perintah pada mereka.

5. Bercermin Diri

Terkadang orangtua lupa bahwa mereka pun sebenarnya sering ingkar janji entah pada lingkungan atau anak-anak mereka sendiri. Dari semua teori cara mendidik anak, introspeksi diri atau bercermin diri seringkali menjadi hal yang terabaikan. Bagaimana mungkin seorang anak mau mendengarkan perintah orangtua dan patuh pada semua perintahnya, jika orangtua mereka seringkali tidak tegas dan konsisten terhadap ucapannya. Apalagi diperparah dengan sikap orangtua yang seringkali memarahi anak-anaknya atas hal yang sebenarnya sering mereka lakukan sendiri. Untuk itu, penting sekali memperbaiki sikap dan perilaku sendiri sebagai orangtua sebelum mengajarkan anak tentang sesuatu hal.
Memiliki anak yang penurut dan patuh pada perintah orangtuanya tentu saja menjadi kebahagiaan yang tak terhingga untuk orangtua itu sendiri. Dan cara diatas diharapkan mampu membantu orangtua mendidik anaknya. ( bidankudotcom)

Jurus Jitu Mendidik Anak Shalih (Tips Mengatasi Kenakalan ORTU)

Berbicara tentang anak, kita semua rata-rata memiliki keinginan yang sama. Manakala anak lahir, kita berharap agar anak tersebut tumbuh lucu dan sehat. Segala upaya dilakukan untuk mewujudkan itu. Walaupun harus mengorbankan waktu, biaya dan tenaga. Sebenarnya hal tersebut manusiawi dan wajar-wajar saja. Namun yang tidak wajar adalah bila menganggap bahwa sehat dan lucu saja sudah cukup.


Kita menginginkan anak kita cerdas dan mengukir segudang prestasi. Demi menggapai angan-angan tersebut, kita rela melakukan apapun walaupun terasa berat. Inipun masih dalam taraf kewajaran. Namun yang tidak benar adalah jika kita menganggap bahwa kecerdasan dan prestasi duniawi adalah segala-galanya.



Sebab seluruh hal tersebut di atas belum tentu menghasilkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.


Betapa sering kita mendengar orang tua yang pusing tujuh keliling, akibat tingkah polah anaknya yang selalu membuat gara-gara. Padahal dulunya semasa kecil dia begitu sehat dan amat menggemaskan. Bukan sekali atau dua kali kita menyaksikan orang tua yang semasa mudanya bekerja keras membanting tulang memeras keringat, demi masa depan anaknya. Namun, di penghujung usia, justru tidak segan-segan si anak membentak orang tuanya, seperti membentak seekor binatang yang hina. Atau mencampakkan tumbuh renta itu ke panti jompo, tanpa perasaan bersalah atau berdosa. Na’udzubillah min dzalik..



Itu baru di dunia. Belum jika kita berbicara tentang alam akhirat. Akankah seabreg prestasi duniawi dan sederet gelar yang disandang anak, membantu nasib kita di hadapan Allah? Terlebih bila ternyata mereka bukanlah generasi salih, yang setia untuk mendoakan kedua orang tuanya.



Sebelum itu semua terjadi, mari kita tilik kembali usaha apa yang telah kita lakukan untuk melahirkan anak-anak yang salih dan salihah? Ketahuilah bahwa mendidik anak itu membutuhkan kesungguhan! Memerlukan pengorbanan! Menuntut keikhlasan dan kesabaran! Serta yang paling penting adalah membutuhkan ilmu yang memadai juga taufik dari Allah ta’ala..



Persiapan materi saja tidak cukup, jika kita menginginkan generasi yang handal. Sebab, betapa banyak hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan materi.



Maka, mari kita terus berusaha untuk berbekal ilmu yang memadai. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa ilmu pendidikan anak adalah cabang ilmu khusus yang harus dikuasai setiap orang tua, bahkan sebelum mereka berpredikat sebagai orang tua. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!



Amat disayangkan, betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu, semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua. Semoga Allah menjauhkan kita dari tipe orang tua seperti itu. Amien.



ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR [2]



Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.



Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.



Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,



“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”



Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”.QS. Asy-Syura (42): 49-50.



Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.



Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.



Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…



Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.



Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.



Dari sini kita sadar…



Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien.



ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN [3]



Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!



“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا”.



Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.



Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.



“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ”.



Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”.QS. At-Taghabun (64): 15.



Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.



Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…



Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,



“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ”.



“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.



Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.



Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?



Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.



Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,



“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ”.



“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”.HR. Bukhari dan Muslim.



ANAK ADALAH AMANAH ALLAH [4]



Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.



Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.



Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.



Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,



“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”



“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”.HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.



Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.



Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].



Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:



“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”



“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.”HR. Bukhari dan Muslim.



Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].



Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.



Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllahakan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…



KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA [5]



Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!



Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllahitupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!



• Beberapa contoh aplikasi nyatanya



Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.



Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendinganatau suara biduanita yang mendayu-dayu!



Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!



Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.



Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllahkamu bisa ikut”.



Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.



Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!



Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien…



SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! [6]



Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.



Tetapi, terimalah kabar gembira…



Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.



Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,



“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.



“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”.HR. Muslim dari Abu Hurairah.



Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallambertutur,



“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”.



“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”.HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.



Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallammenjelaskan,



“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟” فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ”.



“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”.HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.



Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’alaberfirman,



“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“



Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”.QS. Ar-Ra’du (13): 23.



Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!



HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA [7]



Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!



Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:



“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ”



Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”.QS. Fâthir (35): 8.



Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam,pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].



Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?



Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].



Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?



Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempemdalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.



Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.



Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,



“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“



“Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”.HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.



Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala,terutama di waktu-waktu yang mustajab!



MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN [8]



Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.



Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallammenjelaskan,



“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ”.



“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”.HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.



Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.



Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan:



1. Memperbanyak doa.



Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38].



2. Tekun beribadah.



Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”.



3. Merutinkan membaca al-Qur’an.



Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an.



4. Bertutur kata yang baik.



Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.



Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.



Selamat mempraktekkan!



JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! [9]



Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.



Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.



Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita:



1. Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:



“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”.



“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”.HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma.



2. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,



“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ”.



Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”.QS. Ali Imrân (3): 36.



3. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.



Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.



Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallamuntuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,



“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.



“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”.HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.



Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”.Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”.



4. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallammewanti-wanti,



“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ “



“Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”.HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.



KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 [10]



Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.



Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik:



1. BERILMU



Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.



Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.



• Ilmu apa saja yang dibutuhkan?



Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.



Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallammencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,



“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”



“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”.HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.



Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?



Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.



Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.



• Ayo belajar!



Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!



KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-2 [11]



Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:



2. IKHLAS



Ikhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?



Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.



Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya:



1. Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.



Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.



2. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.



Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.



Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allahakan menjadi perkataan yang berbobot.



3. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur



Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.



4. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahala



Keikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.



وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ



Artinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”.QS. Ath-Thur: 21.



Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala![12]



KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-3*



Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:



3. KESALIHAN DIRI



Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!



Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllahitupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!



Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam!



• Beberapa contoh aplikasi nyata



Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.



Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendinganatau suara biduanita yang mendayu-dayu!



Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!



Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.



Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllahkamu bisa ikut”.



Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.



Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!



 KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*



Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:



4. BERTANGGUNG JAWAB



Anak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.



Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.



“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”



Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”.QS. Asy-Syura (42): 49-50.



Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).



Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.



“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …”.



“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”.HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.



Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.



Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!



KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-5*



Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:



5. SABAR



Sabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.



Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.



• Contoh aplikasi kesabaran



1. Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anak



Anak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallammenggambarkan hal itu dalam sabdanya,



“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”



“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”.HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.



Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllahhal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.



Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.



2. Sabar dalam menghadapi pertanyaan anak



Menghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.



Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.



3. Sabar menjadi pendengar yang baik



Banyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.



4. Sabar manakala emosi memuncak



Hendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik. (mukomukoshare-com)
Selengkapnya →