7 KALIMAT YANG TIDAK BOLEH DIDENGAR ANAK

By sulthan on Minggu, 23 Desember 2012



Berbagai masalah rumah tangga, pekerjaan, sampai kenakalan anak tak jarang membuat Anda lepas kontrol dan marah. Bahkan tak jarang, anak-anak menjadi sasaran kemarahan Anda, entah melalui sikap ataupun kata-kata kasar yang keluar dari mulut Anda. Hati-hati bila Anda sering kelepasan bicara seperti ini.
"Kata-kata bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi juga bisa melukai perasaan," ungkap Chick Moorman, penulis bukuParent Talk dan Spirit Whisperers.

Meskipun anak Anda menimbulkan banyak masalah, sebagai orangtua tak sepatutnya Anda melontarkan kata-kata yang menyakitkan bagi anak. Efek dari ucapan kasar tersebut sering kali lebih merugikan daripada yang Anda bayangkan. Contohnya seperti ini:


"Kalau nakal, Ibu akan meninggalkanmu di sini." Anda mengancam dan menakuti anak-anak dengan harapan agar mereka patuh pada perintah Anda. Perlu Anda ketahui, ketakutan terbesar anak-anak kecil adalah tersesat sendirian dan merasa tidak aman. Oleh karena itu, tindakan Anda meninggalkannya sendirian akan menimbulkan trauma bagi dirinya.
Alih-alih mengancam dan menakuti anak, lebih baik katakan keinginan Anda dengan baik. Misalnya ketika anak merengek minta mainan, katakan saja padanya, "Arka, kalau kamu terus merengek seperti itu, kita akan pulang sekarang. Tapi kalau kamu tidak nakal, kita akan tetap di toko ini dan memilih belanjaan bersama."
Alternatif lainnya adalah dengan beristirahat sejenak. Kenakalan anak dan kemarahan Anda mungkin saja merupakan tanda bahwa Anda atau anak butuh istirahat.

"Kamu seharusnya malu." Banyak orangtua yang beranggapan bahwa dengan mengungkapkan hal tersebut, anak akan malu dan akan mengubah sikapnya sesuai dengan yang mereka inginkan. Namun, anak kecil belum dapat memahami rasa malu yang terjadi akibat kesalahan yang diperbuatnya. Oleh karena itu, hal ini belum tentu langsung berhasil. Jika terlalu sering mengatakan hal ini, maka mereka hanya akan berpikir bahwa segala sesuatu yang dilakukannya selalu salah.

"Seandainya kamu tidak pernah ada." Kalimat ini punya makna: "Ayah dan ibu tidak pernah menginginkanmu." Karenanya, kalimat ini tidak sepantasnya diucapkan oleh orangtua. Kalimat ini akan sangat menyakitkan, baik bagi si anak maupun orang lain yang mendengarnya. Terlepas dari kenakalan yang telah dilakukan anak, ia hadir karena kehendak Anda dan suami. Maka, bersikaplah sebagai orangtua yang bertanggung jawab dengan mengasuh dan mendidik anak dengan baik, bukannya menyalahkannya karena lahir di dunia.

"Kamu yang membuat Ibu bercerai." Tidak ada anak yang menjadi penyebab orangtuanya bercerai. Ketika kalimat ini diucapkan, maka secara tak langsung Anda membuat anak-anak menanggung beban emosional seumur hidupnya. Bahkan ketika Anda menjelaskan dengan penuh kehati-hatian tentang perceraian, anak-anak akan merasa sangat bertanggung jawab atas keputusan Anda untuk bercerai. Anak akan beranggapan bahwa jika dia bersikap lebih baik, maka Anda tidak akan bercerai. Meski tak terucapkan oleh anak, masalah ini sering jadi masalah yang serius.

"Kenapa kamu tidak seperti saudaramu yang lain?" Dengan mengatakan hal ini, maka secara tidak langsung Anda membandingkan anak-anak dengan saudaranya yang lain bahwa anak tidak cukup pintar, cukup baik, ataupun cepat belajar dibanding saudaranya. Pembanding ini juga akan meningkatkan persaingan antarsaudara meningkat, yang kelak akan merusak hubungan persaudaraan dan mengembangkan keterpisahan. Terima setiap anak dalam keluarga Anda karena mereka memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri. Bantu anak untuk melihat keistimewaan mereka dengan berfokus pada masing-masing individu tanpa menggunakan perbandingan.

"Biar Ibu yang menyelesaikan." Mungkin, maksud hati ingin membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit dikerjakan. Namun, jika terlalu sering melakukan hal ini, maka Anda telah mengambil alih pekerjaan anak yang seharusnya bisa dikerjakannya sendiri. Hal ini justru malah akan melemahkannya. Mengambil alih pekerjaan anak mungkin bisa menghemat waktu Anda di masa sekarang, tetapi Anda meninggalkan beban di masa depan karena anak jadi tak terbiasa mandiri.

"Ibu bilang begitu, ikuti saja." Kalimat ini memang terdengar seperti perintah keras bagi anak. Namun, arti yang terdalam dari kalimat ini adalah, "Saya orang dewasa, dan kamu anak-anak", atau "Saya pintar, dan kamu bodoh", atau "Saya berkuasa, dan kamu tidak", atau "Saya yang mengatur, dan kamu yang harus mengerjakan." Penegasan ini akan menciptakan jurang yang lebar antara Anda dan anak.

Gaya bicara seperti ini menimbulkan rasa kesal pada anak, bahkan mungkin rasa benci dan persaingan untuk berebut kekuasaan dalam rumah. Cobalah untuk menggunakan bahasa yang lebih baik untuk mengungkapkan ketidaksetujuan anak sehingga mereka lebih menghormati dan mengerti apa yang Anda rasakan.

Sumber : kompas.com 2012

Selengkapnya →

LEMBAGA PAUD SE INDONESIA (Provinsi Nanggro Aceh Darussalam)

By sulthan on Rabu, 05 Desember 2012

  1. Paud Indah : Jln. Mawar Desa Darut Kecamatan Darul Imah Aceh Besar
  2. Paud Mekar Jaya :  Jln. Tgk Cot Malem Desa Cot Gud Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar
  3. Paud Putri Gina :  Jln. Tanjong Desa T.Diah kecamatan Darusassalam Aceh Besar
  4. Paud Bina Umat : Jln. Jl.Lubuk-Seunelop 23371 Aceh Besar
  5. Paud Mekar Jaya : Ds. Lubuk 23371 Aceh Besar.
  6. Paud Al Qaisar : Jln. Mns. Mapen Aceh besar
  7. Paud Mawaddah Warahmah : Jln. Sukamakmur Aceh Besar
  8. Paud Tulus Bunda : Desa Lamtanjong Aceh Besar
  9. Paud Tanjong : Desa Gempong Tanjong Aceh Besar
  10. Paud Barona : Ds. Mata Ie Montasik Aceh Besar
  11. Paud RAUDHATUL ATHFAL : Ds.Beuradeun Aceh Besar  Aceh Besar
  12. Paud ALHIBBAH: Lampisang Aceh Besar
  13. Paud NURUL AINI: Paleuh Blang Aceh Besar
  14. Paud HARAPAN BUNDA : Desa Banda Safa
  15. Paud NURUL HIDAYAH : Desa Piyeung Datu
  16. Paud Pinang Muda : Jln. Pasar Pendidikan
  17. Paud NURUL FIKRI : Ds.Bukit Panjang 2 Kec.Manyak Pahet
  18. Paud RAUDHATUL JANNAH : Kp. Bandar Khalifah Kec. Bendahara
  19. Paud NURUL IKHWAN : Ds.Paya Bedi Ken Rantau
  20. Paud Pertiwi : Ds.Suka Jadi Kec. Rantau
  21. Paud Mutia : Ds. Suka Mulia Kec. Rantau Ds. Suka Mulia Kec. Rantau
  22. Paud Mutiara : Jln. Ir. H. Juanda Kec. Karang Baru
  23. Paud Matahari Kecil : Desa Bukit Tempurung Kec. Rantau
  24. Paud Iqbal Jaya : Ds. Paya Tampah Kec. Karang Baru  
  25. Paud Al-Akbar  : Ds. Ingin Jaya Kec. Rantau
  26. Paud Al-Hafidz : Ds.Suka Rakyat Kec. Rantau
  27. Paud Malahayati : Ds. Perdamaian Kota Kualasimpang
  28. Paud Tahriqul Jannah : Ds. Perdamaian Kota Kualasimpang
  29. Paud Permata Bunda : Ds. Paya Udang Kec. Seruway
  30. Paud Peduli : Ds.Alur Tani I Kec.Tamiang Hulu
  31. Paud Peduli Kasih : Desa.Rantau Manyang Ds.Kaloy
  32. Paud Syakirah : Desa. Sungai Liput Kec. Bendahara
  33. Paud Idola Banda : Kampung Pusong Kapal Kec. Seruway
  34. Paud Kartika XIV : Asrama Yonif 111/KB Tualang Cut
  35. Paud Nurul Afika : Desa. Suka Ramai Kec. Seruway
  36. Paud Restu Bunda : Desa. Paya Udang Kec. Seruway
  37. Paud Harapan Bunda : Desa. Gelung Kec. Seruway
  38. Paud Rouzatul Bunda : Kampung Tangsi Lama
  39. Paud AN-NUR : Kampung Suka Damai Kec. Seruway
  40. Paud  BIRRU WALIDAIN : Kampung Besar Kec. Banda Mulia
  41. Paud AL-IKLAS : Kampung Tanjung Mulia Kec. Bendahara
  42. Paud  AL-ANSHAR : Kec. Bendahara
  43. Paud MISHBAHUL HAYAT : Kec. Bendahara
  44. Paud  BIJEH MATA : Mtg. Kruet
  45. Paud DARUL ILMI : Idi Rayeuk
  46. Paud  ANEUK MEUTUAH : Panton Rayeuk  M
  47. Paud  BIJEH MATA : Mtg. Kruet
  48. Paud  PEULALE HATE : Darul Aman
  49. Paud  LAOT ILEUME : Kuala Idi Cut
  50. Paud AL-HUSNI : Nurussalam
  51. Paud TABINA PANGSA : Idi Rayeuk
  52. Paud TABINA PANGSA : Idi Rayeuk
  53. Paud ZAKIRA : Peureulak Barat
  54. Paud PERMATA BUNDA : Julok Aceh Timur
  55. Paud  PUTROE BUNGSU : Julok Aceh Timur.
  56. Paud Guna Hayati : Aceh Utara
  57. Paud ACEH LON SAYANG : Blang Dhod
  58. Paud Sunnah : Dsn Lamyong Rukoh
  59. Paud Putik Mawar : Gp. Pango Raya Ulee Kareng
  60. Paud Babul Abrar : Lamjamee B.Aceh
  61. Paud Fortuna : Lampineung B. Aceh
  62. Paud Pend. Permata Bunda : PB. Tunong Dsn Damai
  63. Paud Al- Asyura : Gampong Meurandeh
  64. Paud Pendidikan Nurul 'A-la : Jl. Pang. polem no 41 Gp. Jawa
  65. Paud Cinta Kasih : Prof. Majid Ibrahim no. 101
  66. Paud Yayasan Pendidikan Al- Qalam : Kota Langsa
  67. Paud PAUD Buah Hati : Jl. Masjid no 25 Sidodadi
  68. Paud  Chitra : Gp. Teungoh
  69. Paud Al-Kautsar : Alue Dua
  70. Paud Dwi Ikhwani : Jl. Perumnas Langsa
  71. Paud Anak Bangsa I : Kec. Banda Sakti
  72. Paud Anak Bangsa II : Kec. Muara Satu
  73. Paud Anak Bangsa III : Kec. Muara Dua
  74. Paud PELITA BUNDA  : Desa Suak Sibadeng
  75. Paud Yayasan Raudhatul Ilmi : Desa Pante Ceuremen A. Barat
Propinsi Selanjutnya Lihat disini !!
    Selengkapnya →

    KOMUNIKASI DALAM PENGASUHAN ANAK

    By sulthan

    Pengertian komunikasi dalam pengasuhan anak usia dini adalah hubungan manusiawi antar individu baik verbal maupun non verbal, secara individu dan atau kelompok, sehingga terjadi saling memahami untuk menciptakan hubungan akrab dengan anak usia dini, pengasuh, pengelola, dan orang tua.

    Perkembangan keterampilan berkomunikasi merupakan kunci untuk pengendalian diri dan keberhasilan hubungan dengan yang lainnya.
    Komunikasi produktif terjadi bila para pelaku komunikasi sama-sama merencanakan strategi komunikasinya untuk saling memberi rasa nyaman dan puas dalam berkomunikasi.  Namun demikian, komunikasi produktif akan sulit atau jarang  dapat  tercapai apabila pendidik lebih sering menampilkan gaya komunikasinya yang menonjolkan aspek otoritas dan kekuasaan. Karena pola komunikasi yang otoriter akan diserap oleh anak didiknya sehingga mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang otoriter. Dan ini akan menjadi lebih buruk lagi bila pola komunikasi serupa diterapkan oleh para orang tua di keluarganya .
    Oleh karenanya,  dalam kaitan ini, marilah sejenak kita menyimak sebuah puisi hasil karya  Dorothy Law Nolte yang berjudul “Children Learn What They Live” yang diterjemahkan bebas oleh Jalaludin Rachmat dengan  judul :

    Anak Belajar dari Kehidupannya
    Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
    Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
    Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
    Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

    Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
    Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
    Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
    Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia akan belajar keadilan
    Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
    Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
    Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, dan persahabatan,
    Ia belajar menemukan cinta delam kehidupan.

    Bila ditilik isi puisi di atas, dalam kaitannya dengan komunikasi dan interaksi di dalam kelas, maka yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana pemilihan serta penggunaan bahasa oleh para pendidik dalam berkomunikasi maupun berinteraksi dengan anak didiknya, dan bagaimana pendidik menciptakan situasi yang memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan bahasanya.  Kesempatan ini dapat dilakukan melalui kegiatan; bercakap-cakap, bercerita, dan tanya-jawab. Disamping itu pendidik juga harus menyediakan sarana pendukung perkembangan bahasa, yaitu alat permainan yang menstimulasi perkembangan bahasa anak,  seperti boneka-boneka, mobil-mobilan, atau alat-alat di sentra bermain peran. 

    Dengan demikian, maka  peran pendidik di sini adalah ‘guru bahasa“  dan bahkan dalam konteks yang lebih luas dapat dikatakan bahwa orang tua adalah  “guru bahasa“  bagi anaknya. Hal ini dapat dimengerti karena dalam berinteraksi, kita menggunakan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi. Oleh karenanya baik orang tua maupun pendidik memegang peranan penting dalam menciptakah situasi dan kondisi yang kondusif, sehingga pola komunikasi produktif dapat tercipta. Dalam hal demikian  para  pendidik  dituntut untuk menggunakan gaya bahasa dan pola komunikasi yang tepat sehingga tujuan komunikasi dan interaksi dapat tercapai. 

    Komunikasi dapat berbentuk verbal: yaitu komunikasi dengan menggunakan kata-kata dan atau ungkapan, dan dapat berbentuk non verbal: menggunakan isyarat, gerak tubuh, dan atau alat/media tertentu. Kedua bentuk komunikasi ini digunakan secara bergantian dan saling melengkapi dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan anak. 

    Para ahli menyatakan bahwa komunikasi orang tua dengan anaknya merupakan hal paling penting dalam kehidupan anak.
    Komunikasi sangat penting untuk menjalin hubungan social. Dengan berkomunikasi kita dapat mengetahui, memahami dan merasakan pikiran atau perasaan orang lain.

    Komunikasi dilakukan sejak anak dilahirkan. Bayi melakukan komunikasi dengan orang-orang sekitarnya melalui tangisan dan gerakan tubuhnya. Bayi dapat memahami komunikasi orang sekitarnya, dari suara yang didengarnya terutama suara ibunya serta mimik wajah yang dilihatnya. Anak yang lebih besar melakukan komunikasi dengan bahasa. Celotehan anak walaupun belum dimengerti merupakan awal anak membangun komunikasi dengan bahasa.

    Selama berkomunikasi terjadi proses belajar. Komunikasi membangun hubungan dengan sekeliling bahkan dengan dunia. Dengan berkomunikasi dapat saling mengenal,saling bertukar pikiran, saling menyampaikan perasaan, sehingga tumbuh rasa saling percaya, saling menyayangi dan saling memahami.

    Komunikasi yang baik membantu anak untuk mengembangkan kepercayaan diri, harga diri, dan memahami orang lain. Komunikasi yang baik membantu anak tumbuh menjadi orang dewasa yang memiliki perasaan yang baik tentang dirinya dan orang lain.

    Komunikasi yang baik membangun hubungan yang harmonis, kerjasama dan merasa nyaman. Sebaliknya komunikasi yang buruk dapat membuat anak tidak menyukai orang dewasa, munculnya konflik dan ketidak nyamanan. 

    Komunikasi yang efektif mempertajam kepekaan terhadap lawan bicara. Memahami keberadaan anak memudahkan kita menjalin hubungan  yang lebih erat dengannya. Anak yang hidup dalam keluarga yang memiliki komunikasi yang sehat dapat terhindari dari perilaku yang mendatangkan konflik.

    Sesungguhnya dalam setiap proses komunikasi semua kemampuan anak sedang dibangun. Artinya kemampuan atau kecerdasan anak tidak dirangsang terpisah-pisah, tetapi utuh saling terkait.

    Baca selengkapnya di sini !!
     
    Selengkapnya →

    PENGERTIAN DAN KONSEP DASAR PAUD

    By sulthan on Selasa, 20 November 2012

    Pengertian PAUD

    Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah pendidikan yang memberikan pengasuhan, perawatan, dan pelayanan kepada anak Usial Lahir sampai 6 tahun. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki sekolah dasar dan kehidupan tahap berikutnya.
       
    Pendidikan usia dini  merupakan wahana  pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak. Keberhasilan proses pendidikan pada masa dini tersebut menjadi dasar untuk proses pendidikan selanjutnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan pada lembaga pendidikan anak usia dini, seperti : Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, Satuan Padu Sejenis  maupun Taman Kanak-kanak sangat tergantung pada sistem dan proses pendidikan yang dijalankan. 

    Salah satu pemenuhan hak pendidikan sejak dini pada usia 3-5 tahun yang kemudian dilakukan masyarakat dan pemerintah yaitu program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Didalam pelaksanaannya, setiap kelurahan yang ada di Indonesia didorong untuk memiliki minimal satu PAUD. PAUD merupakan alternatif pemenuhan hak pendidikan selain Taman Kanak-Kanak (TK) atau Taman Pendidikan Alqur�an (TPA).

    Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2005, PAUD termasuk dalam jenis pendidikan Non Formal. Pendidikan Non Formal selain PAUD yaitu Tempat Penitipan Anak (TPA), Play Group dan PAUD Sejenis. PAUD sejenis artinya PAUD yang diselenggarakan bersama dengan program Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu untuk kesehatan ibu dan anak). Sedangkan pada Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), PAUD dimasukkan kedalam program Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

    Pada penyelenggaraan PAUD, jenis pendidikan ini tidak menggunakan kurikulum baku dari Depdiknas, melainkan menggunakan rencana pengajaran yang disebut Menu Besar. Menu Besar ini mencakup pendidikan moral dan nilai keagamaan, fisik/motorik, bahasa, sosial-emosional dan seni. Panduan dalam Menu Besar ini akan dikembangkan oleh tiap PAUD, berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing PAUD.

    Selain tidak menggunakan kurikulum baku, PAUD juga ditujukan untuk kalangan ekonomi miskin. Karena biasanya PAUD tidak menarik iuran sekolah atau menarik iuran dengan jumlah yang sangat kecil. Hal ini untuk memenuhi hak pendidikan anak, mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-cuma (Pasal 31 Konvensi Hak Anak).


    Bentuk-bentuk Paud terdiri dari :
    1. PAUD Formal ; TK, Raudhatul Atfal.
    2. PAUD Non Formal ; Kelompok Bermain (KB), Taman Pendidikan Anak (TPA), Pos Paud ..dll
    3. PAUD Informal ; Keluarga

    Konsep Dasar PAUD 

    Hakikat Anak Berkaitan dengan Anak Usia Dini
    Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang masih harus dikembangkan. Ia memiliki karakteristik  yang  khas dan  tidak sama dengan orang dewasa serta akan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya. Dalam hal ini anak merupakan seorang manusia atau individu yang memiliki pola perkembangan dan kebutuhan tertentu yang berbeda dengan orang dewasa. Anak memiliki berbagai macam potensi yang harus dikembangkan. Meskipun pada umumnya anak memiliki pola perkembangan yang sama, tetapi ritme perkembangannya akan berbeda satu sama lainnya karena pada dasarnya anak bersifat individual.
    Anak usia dini adalah  sosok individu yang sedang menjalankani proses perkembangan dengan pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia  0 – 8 tahun (NAEYC, 1992). Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek seperti: fisik, sosio-emosional, bahasa dan kognitif sedang mengalami masa yang  tercepat dalam  rentang perkembangan hidup manusia (Berk,1992). Anak usia dini terbagi menjadi 4 (empat) tahapan yaitu masa bayi dari usia lahir sampai 12 (dua belas) bulan, masa kanak-kanak/batita dari usia 1 sampai 3 tahun, masa prasekolah dari usia 3 sampai 5 tahun dan masa sekolah dasar dari usia 6 sampai 8 tahun. Setiap tahapan usia yang dilalui anak akan menunjukkan karakteristik yang berbeda. Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak  haruslah memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan. Apabila perlakuan yang diberikan tersebut tidak didasarkan pada karakteristik perkembangan anak, maka hanya akan menempatkan anak pada kondisi yang menderita.

    Berkaitan dengan anak usia dini, terdapat beberapa masa yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi bagaimana seharusnya seorang pendidik menghadapi anak usia dini, sebagai berikut:
    1. Masa Peka
    2. Masa Egosentris
    3. Masa Meniru
    4. Masa Berkelompok
    5. Masa Bereksplorasi
    6. Masa Pembangkangan

    Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
    Secara umum tujuan Pendidikan Anak Usia Dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sedangkan berdasarkan tinjauan aspek didaktis psikologis tujuan pendidikan di Pendidikan Anak Usia Dini yang utama adalah:
    1. Menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan agar mampu menolong diri sendiri (self help), yaitu mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri seperti mampu merawat dan menjaga kondisi fisiknya, mampu mengendalikan emosinya dan mampu membangun hubungan dengan orang lain.
    2. Meletakkan dasar-dasar tentang bagaimana seharusnya belajar (learning how to learn). Hal ini sesuai dengan perkembangan paradigma baru dunia pendidikan melalui empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together yang dalam implementasinya di  lembaga PAUD dilakukan melalui pendekatan learning by playing, belajar yang menyenangkan (joyful learning) serta menumbuh-kembangkan keterampilan hidup (life skills) sederhana sedini mungkin. 

    Fungsi Pendidikan Anak Usia Dini 

    Program kegiatan bermain pada pendidikan anak usia dini memiliki sejumlah fungsi, yaitu: (1) untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya, (2) mengenalkan anak dengan dunia sekitar, (3) mengembangkan sosialisasi anak, (4) mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak dan (5) memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya.

    Berdasarkan tujuan pendidikan anak usia dini dapat ditelaah beberapa fungsi pendidikan anak usia dini, yaitu :
    a. Fungsi Adaptasi
    Berperan dalam membantu anak melakukan penyesuaian diri dengan berbagai kondisi lingkungan serta menyesuaikan diri dengan keadaan dalam dirinya sendiri. Dengan anak berada di lembaga pendidikan anak usia dini, pendidik membantu mereka beradaptasi dari lingkungan rumah ke lingkungan sekolah. Anak juga belajar mengenali dirinya sendiri.

    b. Fungsi Sosialisasi
    Berperan dalam membantu anak agar memiliki keterampilan-keterampilan sosial yang berguna dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari dimana ia berada. Di lembaga pendidikan anak usia dini anak akan bertemu dengan teman sebaya lainnya. Mereka dapat bersosialisasi, memiliki banyak teman dan mengenali sifat-sifat temannya.

    c. Fungsi Pengembangan
    Di Lembaga pendidikan anak usia dini ini diharapkan  dapat pengembangan berbagai potensi yang dimiliki anak. Setiap unsur potensi yang dimiliki anak membutuhkan suatu situasi atau lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan potensi tersebut kearah perkembangan yang optimal sehingga menjadi potensi yang bermanfaat bagi anak itu sendiri maupun lingkungannya.

    d. Fungsi Bermain
    Berkaitan dengan pemberian kesempatan pada anak untuk bermain, karena pada hakikatnya bermain itu sendiri merupakan hak anak sepanjang rentang kehidupannya. Melalui kegiatan bermain anak akan mengeksplorasi dunianya serta membangun pengetahuannya sendiri
    .

    Prinsip dalam Pendidikan Anak Usia Dini  

    Untuk memenuhi aspek-aspek dalam perkembangan anak baik aspek fisik, kognitif, sosial emosional dan bahasa serta aspek lainnya seperti agama dan moral, kemandirian dan seni), maka perlu dilakukan berbagai prinsip yang meliputi:

    1. Berorientasi pada Kebutuhan Anak
    2. Belajar melalui bermain
    3. Pendekatan  Berpusat pada Anak
    4. Pendekatan Kontruktivisme
    5. Pendekatan Kreatif dan inovatif
    6.  Lingkungan yang kondusif
    7. Menggunakan pembelajaran terpadu
    8. Pengembangan Tematik
    9. Menggunakan berbagai media dan sumber belajar
    10. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

      

    Sumber referensi : 
    • Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, oleh: Dra. Nurbiana Dhieni, M.Psi, Proyek Direktorat Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal Tahun 2009 
    • http://paud.kemdikbud.go.id/article/detail/pendidikan_anak_usia_dini-2
    Selengkapnya →

    MAINAN BAYI (Baby Mobile)

    By sulthan on Sabtu, 17 November 2012

    Dalam bahasa Inggris, mainan ini disebut Baby Mobile. Baby mobile ini termasuk mainan yang direkomendasikan untuk bayi, karena fungsinya yang bisa membantu melatih visualisasi warna pada bayi. Bayi bisa belajar melihat objek yang ada di atasnya sehingga ia bukan saja merasa gembira, tetapi juga sekaligus belajar visual.

     

    Membuat Mainan Bayi (Baby Mobile) dari Bahan Bekas  

    silakan baca:

    http://graphicalova.blogspot.com/2012/09/tutorial-cara-membuat-mainan-bayi-1.html

    Selengkapnya →

    Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament)

    By sulthan on Sabtu, 10 November 2012


    Pada postingan kali ini saya akan mengulas tentang model pembelajaran kooperatif tipe TGT.  Ulasan di bawah ini disadur dari skripsi karya Warid Ardiansyah Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang.

    Pembelajaran Kooperatif sangat beragam jenisnya. Salah satunya adalah model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament). Menurut Kurniasari (2006), model pembelajaran TGT merupakan model pembelajaran kooperatif dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam kelas yang terdiri atas 3-5 siswa yang heterogen, baik dalam hal akademik, jenis kelamin, ras, maupun etnis. Inti dari model ini adalah adanya game dan turnamen akademik.
    Sebelum memulai game dan turnamen akademik, guru terlebih dahulu menempatkan siswa dalam sebuah tim yang mewakili heterogenitas kelas ditinjau dari jenis kelamin, ras, maupun etnis. Masing-masing siswa nantinya akan mewakili kelompoknya untuk bersaing dalam meja turnamen.
    Setelah kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, guru kemudian menyajikan materi dan selanjutnya siswa bekerja mengerjakan LKS dalam kelompoknya masing-masing. Apabila ada anggota kelompok yang kurang mengerti dengan materi dan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertugas memberikan jawaban seta menjelaskannya sebelum pertanyaan tersebut diajukan kepada guru.
    Untuk memastikan apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, maka siswa akan bertanding dalam game dan turnamen ademik. Gamehanya diikuti oleh perwakilan dari masing-masing kelompok, sedangkan turnamen diikuti oleh semua siswa.
    Ketika turnamen akademik, siswa akan dipisahkan dengan kelompok asalnya untuk ditempatkan dalam meja-meja turnamen. Setiap meja turnamen terdiri dari beberapa siswa yang mewakili kelompoknya masing-masing. Penentuan dimana meja turnamen yang akan ditempati oleh siswa dilakukan oleh guru, yaitu dengan melihat homogenitas akademik. Maksudnya, siswa yang berada dalam satu meja turnamen adalah siswa dengan kemampuan akademiknya setara. Hal ini dapat ditentukan berdasarkan nilai yang diperoleh saat pre-test.
    Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan tahapan-tahapan dalam model pembelaran TGT. Menurut Slavin (2001:166-167), langkah-langkah model pembelajaran TGT ada lima tahap, yaitu: tahap presentasi di kelas, tim, game, turnamen, dan rekognisi tim. Uraian selengkapnya sebagai berikut:
    2.2.A.   Presentasi di kelas
    Penyajian materi dalam TGT diperkenalkan melalui presentasi kelas. Presentasi kelas dilakukan oleh guru pada saat awal pembelajaran. Guru menyampaikan materi kepada siswa terlebih dahulu yang biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung melalui ceramah. Selain menyajikan materi, pada tahap ini guru juga menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, serta memberikan motivasi.
    Pada tahap ini, siswa juga dapat diikutsertakan saat penyajian materi. Bahkan agar lebih menarik, penyajian materi bisa disajikan dalam bentuk audiovisual yang dikemas dalam CD interaktif seperti yang dilakukan dalam penelitian ini.
    Pada saat penyajian materi, siswa harus benar-benar memperhatikan serta berusaha untuk memahami materi sebaik mungkin, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok, gamedan saat turnamen akademik. Selain itu, siswa dituntut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran seperti mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan yang diajukan guru, dan mempresentasikan jawaban di depan kelas.
    2.2.B.   Tim/kelompok
    Setelah penyajian materi oleh guru, siswa kemudian berkumpul berdasarkan kelompok yang sudah dibagi guru. Setiap tim atau kelompok terdiri dari 3 sampai 5 siswa yang anggotanya heterogen. Dalam kelompoknya siswa berusaha mendalami materi yang telah diberikan guru agar dapat bekerja dengan baik dan optimal saat turnamen.
    Guru kemudian memberikan LKS untuk dikerjakan. Siswa lalu mencocokkan jawabannya dengan jawaban teman sekelompok. Bila ada siswa yang mengajukan pertanyaan, teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjawab dan menjelaskan pertanyaan tersebut. Apabila teman sekelompoknya tidak ada yang bisa menjawabnya, maka pertanyaan tersebut bisa diajukan kepada guru.
    Belajar dalam kelompok sangat bermanfaat, karena dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial memupuk keterampilan kerja sama siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud adalah berbagi tugas dengan anggota kelompoknya, saling bekerja sama, aktif bertanya, menjelaskan dan mengemukakan ide, menanggapi jawaban/pertanyaan dari teman, dan sebagainya.
    2.2.C.  Game (permainan)
    Apabila siswa telah selesai mengerjakan LKS bersama anggota kelompoknya, tugas siswa selanjutnya adalah melakukan game. Gamedimainkan oleh perwakilan dari tiap-tiap kelompok pada meja yang telah dipersiapkan. Di meja tersebut terdapat kartu bernomor yang berhubungan dengan nomor pertanyaan-pertanyaan pada lembar permainan yang harus dikerjakan peserta. Siswa yang tidak bermain juga berkewajiban mengerjakan soal-soal game beserta teman sekelompoknya.
    2.2.D.   Tournament (turnamen)
    Turnamen biasanya dilakukan tiap akhir pekan atau akhir subbab. Turnamen diikuti oleh semua siswa. Tiap-tiap siswa akan ditempatkan di meja turnamen dengan siswa dari kelompok lain yang kemampuan akademiknya setara. Jadi, dalam satu meja turnamen akan diisi oleh siswa-siswa homogen (kemampuan setara) yang berasal dari kelompok yang berbeda.
    Meja turnamen diurutkan dari tingkatan kemampuan tinggi ke rendah. Meja 1 untuk siswa dengan kemampuan tinggi, meja 2 untuk siswa dengan kemampuan sedang. Meja 3 untuk siswa dengan kemampuan di bawah siswa-siswa di meja 2, dan seterusnya. Di meja turnamen tersebut siswa akan bertanding menjawab soal-soal yang disediakan mewakili kelompoknya.
    Soal-soal turnamen harus dirancang sedemikian rupa agar semua siswa dari semua tingkat kemampuan dapat menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Jadi, guru membuat kartu soal yang sulit untuk siswa pintar, dan kartu dengan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. 
    Siswa yang mendapat skor tertinggi akan naik ke meja yang setingkat lebih tinggi. Siswa yang mendapatkan peringkat kedua bertahan pada meja yang sama, sedangkan siswa dengan peringkat-peringkat di bawahnya akan turun ke meja yang yang tingkatannya lebih rendah. 


    Setelah siswa ditempatkan dalam meja turnamen, maka turnamen dimulai dengan memperhatikan aturan-aturannya. Aturan-aturan turnamen TGT yaitu:
    (1)     cara memulai permainan
    Untuk memulai permainan, terlebih dahulu ditentukan pembaca pertama. Cara menentukan siswa yang menjadi pembaca pertama adalah dengan menarik kartu bernomor. Siswa yang menarik nomor tertinggi adalah pembaca pertama.
    (2)     Kocok dan ambil kartu bernomor dan carilah soal yang berhubungan dengan nomor tersebut pada lembar permainan.
    Setelah pembaca pertama ditentukan, pembaca pertama kemudian mengocok kartu dan mengambil kartu yang teratas. Pembaca pertama lalu membacakan soal yang berhubungan dengan nomor yang ada pada kartu. Setelah itu, semua siswa harus mengerjakan soal tersebut agar mereka siap ditantang. Setelah si pembaca memberikan jawabannya, maka penantang I (siswa yang berada di sebelah kirinya) berhak untuk menantang jawaban pembaca atau melewatinya.
    (3)     Tantang atau lewati
    Apabila penantang I berniat menantang jawaban pembaca, maka penantang I memberikan jawaban yang berbeda dengan jawaban pembaca. Jika penantang I  melewatinya, penantang II boleh menantang atau melewatinya pula. Begitu seterusnya sampai semua penantang menentukan akan menantang atau melewati.
    Apabila semua penentang sudah menantang atau melewati, penantang II memeriksa lembar jawaban dan mencocokkannya dengan jawaban pembaca serta penantang. Siapapun yang jawabannya benar berhak menyimpan kartunya. Jika jawaban pembaca salah maka tidak dikenakan sanksi, tetapi bila jawaban penantang salah maka penantang mendapatkan sanksi. Sanksi tersebut adalah dengan mengembalikan kartu yang telah dimenangkan sebelumnya (jika ada).
    (4)     Memulai putaran selanjutnya
    Untuk memulai putaran selanjutnya, semua posisi bergeser satu posisi kekiri. Siswa yang tadinya menjadi penantang I berganti posisi menjadi pembaca, penantang II menjadi penantang I, dan pembaca menjadi penantang yang terakhir. Setelah itu, turnamen berlanjut sampai kartu habis atau sampai waktu yang ditentukan guru.
    (5)     Perhitungan poin
    Apabila turnamen telah berakhir, siswa mencatat nomor yang telah meraka menangkan pada lembar skor permainan. Pemberian poin turnamen selanjutnya dilakukan oleh guru.

    Selanjutnya, poin-poin tersebut dipindahkan ke lembar rangkuman tim untuk dihitung rerata skor kelompoknya. Untuk menghitung rerata skor kelompok adalah dengan menambahkan skor seluruh anggota tim kemudian dibagi dengan jumlah anggota tim yang bersangkutan.
    2.2E.    Rekognisi tim (penghargaan tim)
    Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rerata skor kelompok. Penghargaan kelompok diberikan sesuai kriteria berikut.
    Kriteria (rata-rata tim)
    Penghargaan
    40
    45
    50
    Tim baik
    Tim sangat baik
    Tim super
    Selengkapnya →