GURU-PENDIDIK TK/PAUD HARUS PAKAI HELM

By sulthan on Rabu, 01 April 2015

Ketika seorang Guru-pendidik PAUD, datang pagi-pagi, anak-anak sudah pada kumpul di halaman, mata anak-anak pasti menjelajah bunda dari atas sampai bawah, dari ujung rambut sampai ujung kaki, kira-kira apa yang baru?, apa yang menarik dari bunda hari ini?.

Aiih...hari ini ada yang baru, ada bunda yang datang naik sepeda motor baru, cantik sekali, memang bunda sudah cantik, apalagi sepeda motornya baru, jadi sangat menarik perhatian anak-anak di PAUD. Tetapi! ada yang terasa kurang ya.?!!. bunda Naik sepeda motor kok tidak pakai helm..hik..hik..hik..  

Bunda--pendidik PAUD sekalian, Inti sebenarnya dari postingan tulisan kali bukan tentang sosialisasi peraturan tertib lalu lintas untuk bunda, tetapi ini erat kaitannya dengan pendidikan anak kita, khususnya pendidikan karakter untuk anak usia dini. Kadang kita sering lupa, bahkan mungkin sengaja melupakannya sesuatu yang terlihat sederhana, tetapi ternyata hal tersebut sangat penting untuk pendidikan anak-anak usia dini-PAUD.

Bunda tentu tahu, Anak adalah pengamat yang hebat, peniru yang ulung, dan perekam yang luar biasa kuatnya. Segenap pengalaman dari hasil pengamatan anak sekarang adalah sumber data bagi anak yang akan dipakainya untuk bersikap dan bertingkah laku kelak hingga ia dewasa. 

Bunda tidak pakai helm, itu melanggar peraturan, maka anak-anak akan menirunya dan menjadi sebuah pembiasaan yang tertanam dalam pikiran bawah sadar anak, yang melahirkan kebiasaan jelek untuk selalu melanggar peraturan, karena sejak kecil ananda mencontoh dari bunda--bukan? hehe;P.

Tahukah bunda tidak memakai helm berarti melanggar peraturan perUndang-undangan sebagai berikut :

Kewajiban menggunakan helm standar nasional Indonesia bagi pengendara sepeda motor diatur dalam Pasal 57 ayat (1) jo ayat (2) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU No. 22/2009”) yang berbunyi :

(1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan wajib dilengkapi dengan perlengkapan Kendaraan Bermotor.

(2) Perlengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Sepeda Motor berupa helm standar nasional Indonesia.

Selain itu, Pasal 106 ayat (8) UU No. 22/2009 mengatur bahwa:

“Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor dan Penumpang Sepeda Motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia.”

Jadi, berdasarkan ketentuan di atas pengendara motor baik pengemudi maupun penumpang diwajibkan menggunakan helm dengan standar nasional Indonesia. Apabila melanggar, ancaman atas pelanggaran tersebut diatur dalam Pasal 291 UU No. 22/2009 yang berbunyi :

(1) Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

(2) Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor yang membiarkan penumpangnya tidak mengenakan helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Adapun helm dengan standar nasional Indonesia sesuai UU No. 22/1009 dapat diketahui dari adanya tanda SNI pada helm. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 3 huruf b Peraturan Menteri Perindustrian No. 40/M-IND/PER/6/2008 Tahun 2008 Tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua Secara Wajib.

So...gimana bunda?, masih mau tidak pake helm kalo datang ke PAUD?, walaupun rumah bunda dekat, dan tidak ada Pak Polisi, tetap dipakai ya helmnya bunda....demi ananda....Makasih.
Selengkapnya

PUISI "SEKUNTUM BUNGA MELATI UNTUK BUNDA"

By sulthan on Senin, 23 Maret 2015

Puisi_paud

SEKUNTUM MELATI UNTUK BUNDA
(Sajak kecil ananda di Taman Kanak-kanak)
Puisi Karya : Akhmad Solihin

Bunga melati yang telah kita tanam bersama
kita siram dan kita jaga
telah mekar di taman yang indah
ingin kupetik sekuntum
tapi kata bunda: 
"Biarlah ia harum dari tangkainya menghias
taman bermain kita".

Aku cinta keindahan
Bunda juga cinta aku 
aku dan bunda cinta melati indah 
di taman bermain kami.

Saatnya aku pergi beranjak dewasa
sekuntum mawar masih indah di beranda TK
kutinggalkan sekuntum yang masih berseri
tersenyum indah besama mentari pagi
melati putih wangi berseri
untuk bunda Cinta lestari.

* * *
Banjarmasin gerimis digerbang PAUD,    Medio Maret 2015


Puisi-puisi di atas adalah puisi yang penulis buat dengan spontanitas, belum melalui proses editing dan kontemplasi, yang mendalam jika bunda ingin menggunakan/ membacakan untuk anak-anak di PAUD , silakan diubah atau disesuaikan larik, bait dan sajaknya sesuai kebutuhan bunda. Makasih..!!








Untuk sajak dan puisi lainnya dapat dilihat di sini !!
Selengkapnya

MENGENAL PENYEBAB ANAK GAGAP BICARA

By sulthan on Sabtu, 21 Maret 2015

Bunda-- Sering kita temukan dari beberapa kasus masalah berbahasa pada anak yang kurang, salah satunya masalah anak yang gagap berbicara. Para peneliti memusatkan perhatian mereka kepada ciri-ciri (karakteristik) keluarga yang mungkin dapat menjadi penyebab munculnya gagap karena masalah gagap ini banyak terjadi pada anak-anak di keluarga tertentu. Dan yang jadi masalah selanjutnya adalah banyak mitos yang beredar yang menimbulkan kesalahpahaman berkaitan dengan penyebab gagap, yang paling umum adalah padangan masyarakat yang menganggap gagap adalah akibat ada masalah emosional yang berkepanjangan atau kecemasan hebat yang dialami anak.

Sebenarnya ada beberapa faktor penyebab timbulnya gagap pada anak, salah satu faktor kuatnya adalah faktor genetis yang juga memiliki peranan yang sangat kuat dalam etiologi (penyebab munculnya) gagap. Menurut sebuah penelitian yang pernah dilakukan secara luas ditemukan jumlah; keturunan memberikan sumbangan sebesar 71% dari berbagai penyebab munculnya gagap dan sisanya sebanyak 29% disebabkan oleh pengaruh lingkungan. 

Penjelasan yang muncul mengenai faktor keturunan yang memberikan kontribusi paling besar dalam munculnya gagap adalah karena adanya perkembangan yang abnormal di lokasi yang berhubungan dengan pusat bahasa di otak yaitu pada hemisphere kiri. Sumber kelainan yang bersifat biologis yang digunakan untuk menerangkan terjadinya gagap ini dalam kenyataannya menampilkan gambaran klinis yang luas seperti kehilangan spontanitas dan masalah harga diri (self esteem).

Dari kenyataan di masyarakat dan paradigma yang berkembang, untuk mengetahui penyebab anak mengalami gagap ini, ternyata tidak ada satu jawaban yang pasti dan satu-satunya, yang dapat menerangkan sebab-sebab anak mengalami gagap ini. Tetapi secara garis besar jika ada pertanyaan penyebab anak gagap, maka jawaban yang dapat kita berikan adalah :
  1. Tidak ada satu penyebab jelas yang dapat menerangkan terjadi anak mengalami gagap
  2. Masih banyak faktor yang harus dicermati dan dipelajari berkaitan dengan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan gagap.
  3. Perkembangan penelitian masih berlangsung dengan pesat dalam rangka pencegahan terjadinya gagap pada anak.
  4. Gagap biasanya terjadi secara turun-temurun (stuttering runs in families).
Demikian bunda sekalian mengenai anak yang bemasalah dalam kemampuan bicara dan berbahasanya yaitu gagap berbicara, semoga informasi ini bermanfaat, terimakasih, wassalam.

Sumber: http://anakkusehatceria.blogspot.com/2015/03/penyebab-anak-gagap-bicara.html
Selengkapnya

DOWNLOAD SEMUA TENTANG KURIKULUM PAUD 2013

By sulthan on Rabu, 18 Maret 2015

 

Di sini DOWNLOAD SEMUA TENTANG KURIKULUM Pendidikan Anak Usia Dini PAUD 2013

Permendikbud No 137 Tahun 2014
Download :
 Di sini !!


Permendikbud No 146 Tahun 2014
Download :
Di sini  !!

Modul Belajar Pelatihan Penyusunan Kurikulum PAUD 2013 (MS. Word)
Download :
Di sini !!

Selengkapnya

DOWNLOAD PETUNJUK TEKNIS PENILAIAN APRESIASI PTKPAUDNI 2015

By sulthan on Selasa, 17 Maret 2015

 
Petunjuk Teknis Penilaian dalam Rangka Pemberian Apresiasi PTK-PAUDNI Berprestasi tahun 2015


atau 

Selengkapnya

TAHAP PERKEMBANGAN DIRI ANAK MENJADI SEBUAH KEPRIBADIAN

By sulthan on Sabtu, 14 Maret 2015

Dalam ilmu Sosiologi, kepribadian disebut juga "Diri"; dalam Bahasa Inggris "Self." Seseorang akan bersosialisasi dalam lingkungannya, tujuan dari sosialisasi adalah membentuk diri seseorang agar dapat bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang dianut oleh masyarakat dimana ia tinggal. Diri manusia berkembang tahap demi tahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain.

Setiap anggota baru dalam masyarakat harus mempelajari peran-peran yang ada dalam masyarakat. Tahap itu merupakan suatu proses yang disebut role talking atau pengambilan peran. Dalam tahap ini, seorang belajar mengetahui peran apa yang harus dijalankan dirinya, dan peran apa yang dijalankan oleh orang lain. Menurut Goerge Herbert Mead, perkembangan diri manusia (anak) itu melalui tiga tahap, yaitu :

a.Play Stage, dalam tahap ini seorang anak kecil mulai belajar mengambil peran orang-orang yang berada di sekitarnya. Contoh; seorang anak yang meniru-niru peran orang-orang yang berada di dekatnya, seperti orang tua, kakak, orang yang mengasuhnya, maupun tetangganya. Pada tahap ini, sepenuhnya anak belum memahami peran-peran yang ditirunya.

b. Game stage, pada tahap ini seorang anak mulai memahami peran orang lain pada waktu berinteraksi, dan juga peran ia sendiri. Jadi anak sudah memahami masing-masing peran yang harus dijalankan oleh tiap individu di saat interaksi berlangsung. Contoh; di keluarga ada beberapa peran yaitu ada peran sebagai ayah, ibu, kakak, adik, dan sebagainya.

c. Generalized Others, tahap ini anak mampu mengambil peran-peran orang lain yang lebih luas (generalized others), tidak hanya orang-orang terdekatnya. Anak pada tahap ini telah mampu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat. Kemampuan anak melihat peran dirinya dan peran orang lain mulai terlihat. Misalnya, di sekolah, ia tahu perannya sebagai siswa, selain itu juga ada peran guru, atau kepala sekolah. Apabila anak sudah mencapai tahap ini maka ia telah mempunyai suatu diri.

Setiap orang mempunyai kepribadian, dan kepribadian setiap individu senantiasa berbeda. Perbedaan kepribadian dipengaruhi oleh faktor warisan biologis, lingkungan fisik, kebudayaan, pengalaman kelompok, dan pengalaman unik seseorang.

Setiap anak akan mempunyai pengalaman yang tidak sama. Pengalaman unik, menurut Paul B. Horton mempunyai pengertian bahwa tidak seorangpun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama satu sama lainnya, juga tidak seorang pun mempunyai latar belakang pengalaman yang sama. Bagaimana seseorang mengelola pengalamannya, menjadikannya memiliki kepribadian yang tangguh atau lemah.

So...bunda--berikan pengalaman yang terbaik untuk memperkaya perkembangan anak hingga menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
Selengkapnya

Mendidik Anak Usia 7-14 Tahun

By sulthan on Kamis, 12 Maret 2015

Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah yang Allah titipkan kepada orang tua. Kehadiran anak juga merupakan pelengkap dalam bahtera rumah tangga. Apalagi, anak adalah investasi masa depan bagi orang tuanya bukan hanya di dunia. Maka dari itu orang tua hendaknya menjaga, mendidik, dan membimbing anaknya agar menjadi insan yang berguna, beriman dan bertakwa kepada Sang Khalik.

Mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Kesalahan dalam mendidik anak bisa berakibat fatal, karena berakibat pada kebiasaan, pola hidup, dan karakter anak. Oleh karena itu, orang tua harus sungguh-sungguh dalam mendidik anaknya.

Mendidik anak usia 7-14 tahun berbeda dengan Mendidik anak usia 0-6 tahun, begitu pula dengan mendidik anak usia 15-21 tahun, dan usia 21 tahun ke atas. Hal ini karena cara mendidik anak juga disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya. Ada beberapa cara mendidik anak usia 7-14 tahun yang saya ketahui dan saya pelajari dari orang-orang di sekitar saya, antara lain:

1. Tanamkan sikap disiplin dan tanggung jawab


Sebagai orang tua, kita dituntut untuk dapat menanamkan sikap disiplin dan tanggung jawab kepada anak. Meskipun tidak mudah untuk membiasakan anak-anak dengan kedua sikap tersebut, tetapi kita harus tetap berusaha semaksimal mungkin agar anak terbiasa dengan sikap itu.

Untuk mengajari anak sikap disiplin, dapat dilalukan dengan berbagai cara. Beberapa cara yang ingin saya kemukakan pada artikel ini antara lain:

  • Berlakukan peraturan-peraturan dalam lingkungan rumah. Beri teguran jika anak melakukan kesalahan, Bila perlu berikan hukuman yang wajar agar mereka tidak mengulanginya lagi. 
  • Ajari mereka menghargai waktu, sehingga bisa membedakan kapan waktu untuk bermain, belajar, istirahat, dll. 
  • Ajarilah anak untuk rajin beribadah tepat waktu (sholat bagi muslim). Dengan mengajarkan anak-anak untuk disiplin dalam beribadah, berarti orang tua telah membentuk kepribadian dan akhlak anak-anak mengikuti acuan agamanya.

          مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِع

"Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat saat berumur tujuh tahun dan pukullah mereka jika tidak sholat saat berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur". (Diriwayatkan oleh Abu Dawud II/167). Pukulan yang dimaksud bukanlah pukulan yang menyiksa tetapi sekedar pukulan untuk mengingatkan mereka. 

 Berikut ini saya uraikan juga beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanamkan sikap tanggung jawab pada anak-anak kita, antara lain:

  • Berikan beberapa tugas kepada anak. Dengan tugas yang dipasrahkan kepada anak diharapkan nantinya anak akan terasah rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diembannya. Misalnya, berikan sedikit kelebihan uang saku kepada anak, agar anak belajar bertanggung jawab dalam mengelola uang saku sendiri. Anda juga dapat memberikan beberapa pekerjaan rumah tangga yang sesuai dengan kemampuan si kecil, agar ia belajar bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang diberikan kepadanya. Pastikan agar tugas yang anda berikan tidak terlalu berat dan sesuai dengan usia anak. 
  • Ajarkan anak untuk tidak berputus asa. Dampingilah anak dalam melakukan tugas mereka. Pastikan bahwa anda tidak sering memberikan bantuan kepada anak. Bila perlu berikan mereka apresiasi disaat anak berhasil menyelesaikan tanggung jawab mereka. 
  • Biarkan anak belajar mengambil keputusan. Dengan memberikan anak kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri itu artinya anda telah mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian sekaligus.
  • Berikan anak contoh yang baik. Anak belajar dari perilaku orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi contoh yang baik agar bisa ditiru anak-anaknya.


2. Ajarkan pendidikan seks dini kepada anak

Pada usia ini orang tua seharusnya sudah memberikan pendidikan seksual kepada anak. Pendidikan seks meliputi upaya pemberian informasi tentang masalah seksual, biasanya mengajarkan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, serta komitmen agar tidak terjadi penyalahgunaan organ seksual. Hal ini penting, mengingat di zaman sekarang banyak terjadi kasus pelecehan seksual terutama yang menyerang anak-anak.

Ada beberapa hal yang bisa orang tua ajarkan kepada anak, antara lain:
  • Anak diajarkan tentang tata cara sholat 
  • Anak dipisahkan tidurnya dari orang tua serta dari saudaranya yang berbeda jenis kelamin. 
  • Anak diajari bersuci, sehingga anak mampu bersuci dari hadast tanpa bantuan orang lain sekalipun keluarganya. 
  • Biasakan anak agar menutup aurat
  • Jelaskan pada anak tentang baligh dan tanda-tanda menuju baligh
  • Ajari anak tentang adab pergaulan dengan lawan jenis
  • Beritahu anak tentang bagian tubuh tertentu yang tidak boleh dipegang atau dilihat orang lain.
  • Tetap dampingi anak dengan baik, dan pastikan komunikasi dengan anak terjaga. 

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi yang sukses dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, marilah kita didik dengan didikan yang benar. 

Selengkapnya